Balik Ke Makassar lagi

Setelah perjalanan panjang dari Makassar – Denpasar – Bandung – Jakarta dan kembali ke Bandung lagi Akhirnya hari ini merupakan hari terakhir dari cuti saya selama 2 minggu. Asyik juga bisa rehat sejenak dari aktifitas kerja untuk mendapatkan sebuah semangat baru. Berangkat dari Bandung pukul 3:30 Pagi dengan Xtrans travel di depan ciwalk Bandung. Seharusnya jadwal keberangkatan dari Bandung pukul 2:30 pagi tapi ternyata Xtrans tidak melayani antar jemput akhirnya ketinggalan.

Jam 3:00 saya mencoba menelpon travel tersebut dan menanyakan bahwasanya sudah jam 3:00 masih belum ada jemputan ke rumah. Uh..salah.”TIDAK ADA FASILITAS UNTUK ANTAR JEMPUT PAK, Semuanya harus berkumpul di Bumi Xtrans-” Wah jadi malu..Ya sudah saya harus menggunakan armada berikutnya. Perjalanan dari Bandung ke Cengkareng cuman menghabiskan waktu 2 jam. Selama perjalanan memang saya hanya menghabiskan untuk istirahat saja agar pagi hari tidak mengantuk di Bandara dan perjalanan ke Makassar.

Tulisan ini saya tulis saat menunggu keberangkatan pesawat karena mau membaca beberapa buku yang saya beli dengan istri di toko buku Gunung Agung tapi rasanya sedikit malas. Ya, sudah membacanya kita tunda dulu, biar di pesawat saja. Sekarang saatnya untuk ngeblog.

Bolak-balik Bandung-Jakarta untuk Interview

Hari ini merupakan hari yang begitu menyenangkan sekaligus melelahkan karena harus bolak-balik Bandung-Jakarta untuk keperluan interview dengan line manager baru karena keharusan untuk pindah ke departemen lain. Berangkat dari Bandung pukul 10 pagi dan sampai di kantor (Jakarta) jam 1:30 siang.

Shalat di mesjid Pondok Indah kemudian menuju EO2 untuk keperluan interview dengan bapak Agus Rotua. Proses interview hanya berlangsung tidak lebih dari 5 menit saja dan langsung kembali ke Bandung. Awalnya ingin ke departemen sebelumnya tapi berhubung masih cuti, akhirnya saya memutuskan untuk segera angkat kaki dari Jakarta. Alhamdulillah sampai di bis baru hujan lebat sehingga terhindar dari hujan.

Makan siang baru terlaksana di bis, kebetulan sang istri membekali makan siang sehingga langsung tancap.. Maklum untuk mencari makan siang di daerah Pondok Indah agak susah karena harus ke mall dan rasa malas yang menghinggapi sehingga saya putuskan untuk membawa bekal dari Bandung saja.

Sampai di Bandung pukul 5:30 sore, Alhamdulillah aktifitas hari ini selesai tinggal menunggu hasil saja.

Saat ini sudah pukul 22:23 malam dan mata sudah lima watt jadi tulisan ini harus dihentikan segera untuk istirahat. Ah tulisannya sampah lagi..

Berlibur…

Saatnya untuk rehat sejenak dari aktifitas kerja yang sudah memasuki tahun ketiga selepas dari kuliah. Libur kali ini begitu istimewa karena telah ditemani oleh sang kekasih yang saat ini telah menjadi istri. Sehabis dari liburan, kami berdua akan melanjutkan perjalanan ke Bandung tempat istri saya bekerja. Banyak rencana yang telah ada dalam benak saya yang akan dikerjakan di Bandung. Ada janji untuk ketemu dengan ex IARD lab dan juga bertemu dengan seseorang yang rencananya ingin membeli produk dari tugas akhir yang dulu penulis kerjakan.

Semoga semua berjalan lancar nantinya, sekarang fokus ke liburan dulu di pulau dewata Bali. Tapi berhubung besok bertepatan dengan hari nyepi jadi harus kehilangan 1 hari untuk menghormati pemeluk agama Hindu yang mayoritas di pulau dewata ini. Perbekalan makan untuk besok telah saya siapkan hari ini karena seluruh toko yang ada akan tutup seharian penuh dan orang-orang yang ada di Bali tidak boleh berkeliaran keluar kecuali untuk melaksanakan shalat Jum’at. Kami sengaja menginap di hotel ini karena lokasinya bersebelahan dengan masjid sehingga tidak perlu berjalan jauh untuk melaksanakan shalat Jum’at.

Sumber gambar: http://www.luxurytravel.com/

Kutahu Jawabannya

Pada artikel penulis sebelumnya telah dijelaskan bahwa 2 hari lalu server sempat down entah kenapa, kemudian saat sudah up kembali muncul masalah baru yakni mail server saat akan login selalu “failed”.

Fokus pada masalah mail server selalu “failed”, ternyata jawabannya sangat sederhana yakni home direktori tempat mailbox dari user tersebut berada memiliki hak akses “d– — —“.

 

Cita-cita yang belum terwujud – Perpustakaan Pribadi

Sebuah perpustakaan pribadi…

Setiap orang punya ambisi dan cita-cita. Ya, sebuah cita-cita sehingga seseorang selalu semangat dalam menjalani aktifitas sehari-hari dengan sebuah tujuan dan harapan hidup. Bagi saya, cita-cita yang begitu menggebu-gebu saat ini adalah sebuah perpustakaan pribadi. Kenapa hal ini menjadi sebuah cita-cita bagi saya?. karena buku-buku yang telah saya kumpulkan sejak kuliah dahulu telah hilang entah kemana padahal buku-buku tersebut begitu penting dan bermanfaat sampai saat ini.

Pada tulisan sebelumnya tentang “Ketika kehilangan buku” telah saya singgung bahwa kepindahan ke Makassar untuk keperluan dinas kantor telah membuat semua buku yang penulis miliki sejak kuliah dan saat bekerja telah hilang entah kemana. Inilah yang melandasi mengapa saya harus memiliki sebuah perpustakaan pribadi sehingga seluruh buku saya dapat tersimpan dengan teratur layaknya sebuah perpustakaan kampus/sekolah/umum.

Sejak kehilangan buku setahun lalu, saya berusaha untuk memiliki koleksi buku kembali dan saat ini buku yang saya miliki sudah berlimpah lagi sehingga tidak tahu harus disimpan kemana. Maklum, namanya menumpang di rumah keluarga tentunya tidak enak kalo terlalu banyak barang. Harapan kedepannya adalah segera mewujudkan sebuah moment penting yakni ^…^ yang Insya Allah berlangsung di awal Maret 2008. Dan memiliki sebuah tempat berlindung tetap untuk keluarga termasuk buku-buku yang saya miliki saat ini.

Dari obrolan dengan Pak Agus Mifto yang juga telah saya tuangkan dalam tulisan sebelumnya tentang “Mendengar Pengalaman Orang“, Salah satu pembicaraan hangat dengan beliau adalah ketika buku telah menjadi sebuah kebutuhan hidup, serta buku dapat menjadi warisan bagi anak-anak kelak nanti yang dapat membawa manfaat bagi dirinya, bagi orang lain – tentu merupakan sebuah amal jariyah [Agus Mifto]. Saya jadi teringat dengan Ibu Mutia Hatta yang sampai saat ini masih memelihara koleksi buku-buku dari ayahandanya [Bung Hatta] yang juga merupakan wakil presiden di zaman kepemimpinan Ir. Soekarno. Memang menurut Ibu Mutia Hatta, memerlukan biaya yang tidak sedikit untuk merawat buku-buku lama dan proses pemeliharaannya pun tidak gampang dan dibutuhkan kesabaran serta kehati-hatian agar buku-buku tersebut tidak rusak.

Semoga cita-cita tersebut segera terwujud. Amin..

Sumber gambar:http://www.shropshire.gov.uk

Mendengar Pengalaman Orang

Kali ini penulis mengangkat judul di atas karena beberapa hari yang lalu di Telkomsel Makassar bertemu dengan Pak Agus Mifto. Senang bisa bertemu dengan beliau karena banyak informasi dan pengalaman hidup yang menarik yang ia ceritakan. Beliau adalah seorang karyawan sekaligus pengusaha. Banyak bidang usaha yang digarap oleh beliau.

Mulai dari bisnis warteg yang cabang usahanya bertambah dari waktu ke waktu, bisnis peternakan kambing yang jumlahnya sudah mencapai 800 ekor. Lumayan, penghasilan per bulan yang dihasilkan dari usahanya. Sehingga hidupnya cenderung lebih enjoy karena dari sisi finansial bukan merupakan sebuah masalah lagi. Beliau bukan lagi bekerja untuk uang tapi uang bekerja untuk dia.

Nah banyak pengalaman yang beliau ceritakan tentang usahanya dan bisa dikatakan seorang motivator juga kepada teman-teman sejawatnya. Banyak hal yang dapat diambil manfaat dari pembicaraan beliau tentang usaha dan bagaiamana menghadapi hidup ini.

Maklum, sebagai orang yang dari segi usia terpaut jauh dengan beliau, tentunya pengalaman hidup yang dialami olehnya jauh lebih banyak dari saya. Sehingga selayaknya saya memperhatikan dengan seksama tentang pengalaman hidup orang lain. Terutama hal-hal positif dari seseorang.

Satu hal yang menarik dari beliau adalah kecintaan terhadap buku, koleksi buku-bukunya sudah sangat banyak walaupun belum semuanya terbaca karena kesibukan sehari-hari. Nah itu yang membuat pembicaraan semakin asyik.

Bagi seorang pencinta buku pasti akan memiliki wawasan yang cukup luas sehingga pembicaraan berbobot dan tidak asal ngomong. Satu lagi yang begitu terngiang-ngiang oleh saya adalah perkataan beliau “Beli buku tidak akan miskin”.

“Betul memang, karena buku malah mendatangkan rezeki tersendiri buat saya, heheehe…”.

Sumber gambar:http://www.simplenomics.com/

Mengais Tulisan di Blog Sendiri untuk Buku

Saat ini saya sedang mengerjakan dua buah buku, yang satunya tentang Debian sedangkan buku yang lainnya tentang kepenulisan secara umum. Nah, semalam sempat kepikiran keliatannya tulisan-tulisan yang pernah diupload pada blog ini dapat berguna untuk beberapa bab pada buku tersebut.

Memang ada beberapa dari tulisan saya pada blog berhubungan dengan tulisan tersebut. Yah itulah salah-satu manfaat yang dapat diambil jika memiliki catatan harian seperti blog karena suatu saat dapat berguna untuk dirangkaikan satu dengan yang lainnya.

Tapi permasalahan yang timbul, apakah tulisan tersebut berbobot dan bukan menjadi bacaan sampah bagi orang lain?. Itulah yang terkadang saya pikirkan saat ini sehingga niat untuk mengadopsi tulisan-tulisan yang ada pada blog ditunda untuk sementara waktu sampai menghasilkan sebuah tulisan yang berbobot.

Sumber Gambar: http://www.jmbpub.com/

Tulisan Sampah

Ya, judul di atas penulis tuangkan pada tulisan kali ini. Alasannya karena tidak tahu harus menuliskan apa atau dengan kata lain penulis kehilangan ide. Akibatnya beberapa hari ini tidak dapat meng-update tulisan di blog penulis. Susah juga memang menemukan sebuah tulisan yang bagus dan bermanfaat bagi orang lain.

Tulisan sampah memang sama sekali tidak bermanfaat sehingga layak dibuang ke tempat sampah dan tidak dilirik apalagi untuk diambil kembali. Tulisan sampah seharusnya tidak layak dipublikasikan ke media internet karena hanya menghasilkan sampah, hee..

Bagaimana menghasilkan tulisan sampah?, jawabannya sangat sederhana karena sesuatu yang dianggap sampah sangat mudah untuk dihasilkan. Lihat saja dalam kehidupan sehari-hari, sampah sangat mudah untuk ditemukan di sekitar kita bukan?.

Budaya Tulis

Budaya tulis-menulis merupakan hal yang sangat positif dibanding dengan budaya lisan yang cenderung tidak bermakna. Budaya tulis tidak semudah yang dibayangkan. Seseorang yang tidak terbiasa dengan tulis-menulis akan terasa sangat berat untuk menggoreskan pena dan tentu saja dengan harapan sebuah tulisan yang bermutu.

Budaya lisan dimiliki oleh setiap orang dan telah berlangsung sejak kecil saat kita telah diberikan kemampuan untuk berkomunikasi lewat lisan kita. Tapi budaya tulis tidak semua orang dapat memilikinya dan jumlahnya pun tidak banyak. Untuk mengembangkan budaya tulis-menulis ini butuh perjuangan dan kerja keras.

Tulis-menulis pasti akan diiringi oleh kebiasaan baca karena hal ini adalah sebuah rumus matematika yang saling berbanding lurus. Dalam arti kata bahwa orang yang senang menulis pastilah termasuk orang yang senang membaca. Kecintaan pada buku akan terlihat oleh seseorang yang terbiasa dengan budaya tulis-menulis.

Jika cerminan di atas telah melekat pada diri kita, maka kita telah termasuk orang-orang dalam golongan masyarakat intelektual yang lebih mengedepankan budaya tulis daripada budaya lisan yang cenderung ngawur atau tidak tertata dalam bahasa yang terstruktural.

Pernahkah kita menyadari bahwa budaya surat-menyurat yang dulunya dilakukan lewat kartu pos terutama menjelang hari raya idul fitri merupakan hal yang sangat positif. Tapi karena kemajuan dunia teknologi informasi saat ini, budaya berkirim surat telah ditinggalkan dan kemudian dialihkan ke budaya berkirim surat melalui pesan singkat. Memang harus diakui bahwa Short Message Service (SMS) mengedepankan kepraktisan dan kecepatan pengiriman informasi. Namun harus diingat bahwa sangat jarang bahkan bisa dihitung jari orang yang mengirimkan pesan singkat menggunakan bahasa yang baku sesuai dengan EYD. Padahal penggunaan bahasa baku hanya dapat diterapkan jika dilatih setiap saat. Kehadiran media blog online sebenarnya dapat menjadi ajang latihan untuk terus menerus melatih penggunaan EYD dalam bertutur kata dalam bentuk bahasa tulisan.

Kemarin malam, program `Kick Andy` ditayangkan oleh Metro TV. Acara ini merupakan salah satu acara tv favorit bagi penulis karena banyak memberikan inspirasi.Dalam program tv tersebut, ditampilkan sosok Andrea Hirata. Novel `laskar pelangi` adalah salah-satu karyanya dan merupakan novel best seller. Ide ceritanya terinspirasi dari pengalamannya di masa kecil dulu. Ia banyak terinspirasi oleh sang guru Ibu Muslimah. Tapi yang perlu dicatat disini adalah budaya tulis-menulis yang dijalankan oleh seorang Andrea.

Selain sebagai karyawan (PT. Telkom), ia juga aktif menulis. Asyik bukan, walaupun profesinya tidak total ke dunia jurnalistik tapi beliau adalah salah satu contoh yang dapat dijadikan panutan dalam hal kepenulisannya. Tentu saja masih banyak penulis best seller lain yang terdapat di negeri tercinta ini.

Kelompok inilah yang dapat diklasifikan sebagai kelompok kecil (intelektual) yang mengedepankan budaya tulis daripada budaya lisan dan tidak semua orang dapat memilikinya. Sekali lagi butuh perjuangan dan kerja keras..

Terus, bagaimana mengembangkan budaya tulis agar dapat tertanam pada setiap individu?. Setiap orang punya cara untuk mengembangkan budaya tulis-menulis ini. Meminjam istilah Aa’ Agym yakni mulailah dari hal kecil, mulai saat ini dan mulai dari diri sendiri.

Kebiasaan menulis dapat dilatih dengan menulis setiap ada kesempatan termasuk menulis di media blog ini. Kemajuan teknologi saat ini memungkinkan setiap orang dapat mengakses internet dimana saja dan kapan saja. Sehingga jika terlintas sebuah ide yang layak ditulis dapat langsung mengakses internet untuk menulis di blog.

Sumber gambar: http://www.warren-wilson.edu/

Ketika Kehilangan Buku

Sebuah buku terkadang begitu berharga buat kita, apalagi jika buku tersebut dengan susah payah mendapatkannya. Beberapa buku text book Debian GNU/Linux yang pernah saya beli dengan jumlah halaman rata-rata 500-an. Seluruh buku tersebut telah hilang. Salah satu contoh buku yang penulis pernah miliki seperti gambar di samping.

Ceritanya begini, Saat kerja di PT. Siemens, seluruh buku di Bandung saya bawa ke tempat kost-an di Pancoran Jakarta. Pembelian buku tidak berhenti sesampai di Jakarta malah bertambah karena selain akses untuk pembelian buku, juga sudah ada rejeki berupa gaji sendiri. Jadinya tidak perlu meminta ke orang tua lagi.

Kemudian pindah kerja ke Ericsson di Wisma Pondok Indah akhir tahun 2006. Karena akses ke WPI cukup mudah dari pancoran, akhirnya saya memutuskan untuk tetap tinggal di kost-an yang lama serta karena alasan pemindahan buku yang banyak pasti akan sangat merepotkan.

Sebulan kerja di Ericsson, sang manager meminta untuk penempatan di Makassar karena alasan orang Makassar. Pemberitahuan ini begitu mendadak dan waktu yang diberikan satu hari saja. Sebagian barang saya drop kembali ke Bandung kecuali seluruh buku yang saya miliki karena akan dibawa ke Makassar.

Karena banyak barang tambahan yang harus saya bawa balik, akhirnya buku-buku tersebut untuk sementara saya simpan di depan kamar kost yang rencananya akan saya ambil kemudian saat balik ke Jakarta.

Sebulan kemudian balik ke Jakarta untuk training di kantor, dan dengan perasaan sangat menyesal buku-buku tersebut telah hilang entah kemana. Sungguh amat disayangkan karena kebanyakan adalah text book yang harganya lumayan…

Beberapa dari buku tersebut begitu berharga bagi saya dalam artian isi dan materi yang diangkat sangat bagus. Hu..Mau memesan buku yang sama untuk kedua kalinya terasa berat karena pengeluaran harus diperhitungkan lagi. Ya sudah, semoga lain kali ada kesempatan dan kelonggaran dana untuk membeli buku-buku tersebut.

Sumber Gambar – http://slog.thestranger.com/files/2008/03/scaled.books-5001.jpg

Termasuk Kecanduan Internet kah?

Malam ini sudah menunjukkan pukul 01.30 padahal besok harus masuk kantor seperti biasa. Gila, sudah hampir 24 jam di depan komputer. Aktiftas pun tidak berarti apa-apa karena hanya mengedit template website serta mencari artikel-artikel menarik.

Apakah hal ini merupakan indikasi dari sebuah kecanduan. Dulu, saat masih kuliah sering mengejek teman kalau kecanduan internet membuat pergaulan di dunia nyata kurang sehat. Dan kenyataannya demikian yang terjadi pada kawan sekaligus sahabat penulis. Ternyata penyakit itu sedang menghinggapi saya. Uhh..

Hari-hari libur pun diisi dengan aktitifitas di depan komputer. pulsa untuk internetan pun kian hari semakin membengkak padahal di kantor juga disiapkan koneksi internet yang cukup kencang.

Semoga hari esok bisa sedikit mengurangi ketergantungan internet dengan berusaha mengalihkan perhatian ke hal lain atau mencari alternatif lain sehingga bisa terhindar dari komputer untuk sementara waktu.

Memang harus saya akui bahwa komplain dari keluarga juga sudah sangat sering dilayangkan ke penulis tapi sedikit dihiraukan dengan berbagai alasan. Maaf..maaf seribu maaf ternyata saya sudah kecanduan internet.

Sumber Gambar: http://news.bbc.co.uk/olmedia/images/_37928_tp_addicted300.jpg

Menulis:Hal Menyenangkan VS Membosankan

Bagi sebagian orang menulis merupakan sesuatu yang sangat membosankan. Tapi bagi sebagian orang, menulis merupakan kegiatan yang sangat menyenangkan. Mengapa bisa menulis merupakan sesuatu hal yang sangat menyenangkan?.

Layaknya seperti hobi yang lain, aktifitas kepenulisan jauh lebih fleksibel untuk dikerjakan setiap saat dan bisa dilakukan dimana saja seperti saat menunggu keberangkatan pesawat, dalam perjalanan kereta api atau bahkan bersantai di kedai kopi. Apapun bentuk kepenulisan baik itu sastra, non fiksi ataupun hanya sekedar catatan kecil dari sesuatu yang kita rasakan.

Namun kebiasaan menulis tidak akan datang dengan sendirinya, melainkan harus dilatih setiap saat karena penyampaian lewat bahasa tulisan jauh lebih sulit daripada disampaikan lewat bahasa lisan. Sebuah informasi yang disampaikan lewat bahasa lisan cenderung tidak bisa dikontrol alias baru terpikirkan setelah kita mengucapkannya. Lain halnya dengan bahasa tulisan, sebuah bahasa tulisan pastinya akan dipikirkan terlebih dahulu kemudian dituliskan.

Sebuah informasi yang disampaikan lewat bahasa tulisan juga dapat dikoreksi setiap saat atau bahkan dapat disempurnakan dengan rujukan dan referensi dari tempat lain. Inilah kedahsyatan tulisan dibanding jika dibahasan dalam bentuk lisan.

Memang awalnya menulis merupakan sesuatu yang sangat membosankan, tapi jika terus dilatih dan dilatih lagi maka tulisan dapat mengalir begitu lancar, hingga terkadang kita sendiri merasa takjub karena jumlah halaman yang telah diberi dengan goresan tinta sudah banyak. `Sedikit demi sedikit akhirnya menjadi bukit`, sebuah ungkapan yang dapat diidentikkan dengan dunia tulis menulis, dengan sekali duduk mungkin dapat menghabiskan puluhan halaman.

Rasa jenuh tentu akan dirasakan oleh setiap penulis, meskipun ini adalah hobi alias sebuah kesenangan. apalagi jika kegiatan tulis-menulis bukanlah menjadi sebuah hobi atau kesenangan. pasti akan selalu merasa jenuh, sampai-sampai tidak dapat menuliskan sepatah-kata pun di sebuah lembaran kosong.

Terkadang media untuk menulis seperti blog ini membuat pemiliknya selalu merasa ditagih secara tidak langsung untuk menuliskan tema-tema baru di blog, entah sadar atau tidak. pastilah rasa itu akan selalu muncul `Hei kapan aku diupdate lagi` sudah terlalu lama tidak ditulisi lagi!!. Jika ini sudah muncul, kemungkinan menulis sudah merupakan kesenangan bagi saya, bagi Anda dan bagi kita semua.

Sumber gambar http://purple-socks.webmage.com/writer.jpg

Hasil Kerjaan yang Tidak Pernah Terdokumentasikan

Judul ini sengaja saya angkat karena begitu banyak dari sahabat/teman saya di bangku kuliah, teman-teman linuxer (pengguna linux) yang saya kenal lewat internet menyesalkan atau tepatnya mengeluh bahwa mereka tidak memiliki dokumentasi sama sekali terhadap hasil kerjaan mereka selama ini.

Hasil kerjaan yang penulis maksud adalah saat berhadapan dengan `pingiun` (baca: linux). Padahal dokumentasi sangat perlu untuk sebuah bidang research/penelitian ataupun kerjaan yang sifatnya iseng-iseng saja atau tidak serius. Hal ini begitu penting karena dokumentasi dalam bentuk tulisan dapat berguna suatu saat nanti. Keuntungan lain dari dokumentasi yang rapih terkadang dapat diangkat menjadi sebuah tulisan yang bisa menghasilkan profit bagi penulisnya. Selain itu, tanpa kita sadari sebuah kebiasaan untuk selalu mendokumentasikan segala sesuatunya pasti berdampak positif bagi pelatihan kepenulisan bagi setiap orang yang melakukannya.

Ada hal yang menarik dalam hal kepenulisan dokumentasi saat berhadapan dengan GNU/linux. Saat mencoba sebuah aplikasi/software, banyak cara yang telah dilakukan tapi semuanya tidak berjalan pada sistem dan entah dengan cara yang mana yang terkadang luput ternyata bisa berjalan dengan sempurna. Untuk urusan kepenulisan dokumentasi terhadapat kasus di atas, penulis berusaha untuk menuliskan langkah demi langkah dari setiap hal walaupun itu gagal, kemudian tulisan tersebut saya edit pada bagian yang gagal kemudian diganti dengan cara atau langkah yang berhasil. Akhirnya bisa menjadi sebuah dokumentasi yang tertata rapih dan enak untuk dibaca. Bagaimana dengan Anda?.

Terkadang ada sebuah penyesalan pada akhirnya terhadap segala sesuatu yang telah kita kerjakan dan berhasil berjalan dengan sempurna pada sistem, tetapi tidak terdokumentasikan sama sekali. Kenapa bisa begitu?. Mungkin hanya masing-masing individu yang bisa menjawab. Saya tidak perlu menjawabnya..

Penulis dan Komputer Tua

Koran “Fajar” terbitan Makassar tertanggal 9 desember 2007 memuat sebuah cerita pendek yang cukup bagus (menurut saya pribadi). Isinya cukup membuat saya prihatin akan sebuah kecintaan dengan kerjaan sebagai seorang penulis lepas. Cerpen tersebut ditulis oleh Dul Abdul Rahman.

Diceritakan bahwa seorang dengan pekerjaan penulis lepas memiliki tanggungan seorang istri dan seorang anak. Sumber rejeki mereka dari oplah yang ia dapatkan dari publikasi hasil karyanya. Karena hidupnya begitu pas2-an maka sang istri memutuskan untuk membantu sang suami dengan membuka toko di depan rumah. Lumayan ramai karena letak rumah mereka berseberangan dengan sebuah sekolah dasar.

Setiap malam ia habiskan waktunya untuk menulis dengan modal sebuah komputer tua. Sungguh ironis memang, seorang penulis terkadang diidentikkan dengan kehidupan yang serba terbatas padahal begitu banyak orang-orang yang sukses juga lewat tulisan-tulisannya.

Ataukah pekerjaan seorang penulis masih dipandang sebelah mata karena tidak populer dan penghasilan yang sangat minim..Kalau saya pribadi, ingin terus menulis dan menghasilkan karya dalam bentuk buku sebagai hobi dan tetap melanjutkan pekerjaan utama sebagai seorang karyawan.

Tidak konsisten dengan Distribusi GNU/Linux dan Unix Varian yang Lain

Semalam saat sedang asyik-asyiknya berselancar di dunia maya, tiba-tiba ada pesan YM yang muncul. Pertanyaannya begini, “Mas, kalau saya menggantinya dengan FreeBSD bisa jalan ngk Ya?.”Aduh, saya malas membalasnya. Kenapa?, Pada awal diskusi sejak beberapa bulan ini menggunakan salah satu distribusi saja. Nah, Permasalahan belum selesai dan jika saya bisa menilai, permasalahannya adalah sederhana cuma karena kemalasan untuk mencarinya di Mr. Google saja.

Eh Malah sudah mau mengajukan FreeBSD lagi. oke lah kalau orang tersebut sudah familiar menggunakan FreeBSD, wong linux saja baru dikenalnya saat mau mengerjakan skripsi.

Jadinya saya benar-benar tidak membalas pesan di YM tersebut dan konsentrasi dengan kerjaan yang lain. Mohon maaf ya karena Anda selalu tidak konsisten dengan kerjaan. Hal-hal sepele yang seharusnya bisa dicari sendiri malah bertanya dan pertanyaannya selalu tidak fokus.

Membiasakan Diri untuk Selalu Sibuk

Satu minggu ini saya berupaya untuk menyibukkan diri entah dengan menulis, membaca buku, atau melakukan inventarisasi database di MSCserver ataupun di MGW. Untuk urusan inventaris database saya benahi sebagai catatan pribadi. Sehingga jika ada penambahan atau perubahan konfigurasi dapat dengan mudah ditelusuri.

Selama ini saya terlalu terlena dengan bersantai-santai ria, ternyata banyak hal yang harus saya pelajari agar tidak ketinggalan kereta. Di saat orang lain berkerja keras dan belajar banyak hal, saya hanya menyibukkan diri dengan pekerjaan-pekerjaan yang tidak bermanfaat.

Sekarang saatnya untuk bangkit kembali, mempelajari banyak hal. Dan harus ada keseimbangan satu sama lainnya. Mungkin belum ketinggalan kereta terlalu jauh. Jadi tekadkan lah Askari untuk bekerja keras mulai detik ini agar bisa menjadi yang lebih baik lagi. Selamat Bekerja KeRas Teman..

–Sumber gambar:http://www.ed-it.net.au/images/computer%20writer.jpg

Be a Great Husband – Agar Dicintai Istri

Suatu hari di bulan suci ramadhan yang lalu saya dan Rian sedang mendengar ceramah agama setelah melaksanakan shalat dhuhur. Ustadznya adalah seorang anggota DPRD Makassar. Cara pembawaan materinya sangat humor. Beberapa bahan ceramah beliau saya dapatkan di buku yang baru saja saya baca.

Memang buku ini diperuntukkan kepada orang-orang yang sudah menikah, tapi tidak ada salahnya kan kalau saya dan semua pembaca yang belum menikah membaca buku ini. Hitung-hitung sebagai sebuah pelajaran hidup di masa yang akan datang saat pernikahan telah tiba. Judul bukunya adalah `Be a Great Husband – agar dicintai istri`. Buku karangan Isham bin Muhammad asy-Syarif ini dapat dijadikan sebagai penuntun dalam membina kehidupan keluarga.

Tulisan saya kali ini saya ringkas dari buku karangan beliau semoga bermanfaat buat diri saya dan juga pembaca. Buku ini banyak bercerita tentang karakteristik seorang suami yang selalu menjadi dambaan bagi istri.

Berikut resensi dari buku “Be a Great Husband – Agar Dicintai Istri”:

Pindah Kerja, Kebiasaan Buruk?

Perusahaan tempat saya bekerja saat ini adalah perusahaan ketiga selepas dari kuliah. Mungkin saya adalah termasuk contoh buruk (terutama untuk sebuah loyalitas) karena dalam kurung waktu 2 tahun kurang sudah tiga kali pindah perusahaan. Di perusahaan pertama hanya bekerja kurang lebih seminggu karena tidak betah dengan habit kerjaan, walaupun orang-orangnya sangat bersahabat dan bidang kerjanya pun sangat menyenangkan karena berhubungan dengan GNU/Linux. Akhirnya saya putuskan untuk nganggur beberapa saat sampai akhirnya mendapatkan panggilan test di perusahaan ini dengan status sebagai karyawan kontrak (outsource).

Proses rekruitasi berjalan selama 3 bulan dan tepatnya januari 2006 mendapat kesempatan untuk bekerja di perusahaan tersebut. Syukur alhamdulillah, banyak teman-teman yang harus merangkak dari bawah sampai bisa mendapatkan kerjaan dengan penghasilan yang lumayan besar untuk ukuran seorang fresh graduate.

Antara menerbitkannya atau dishare lewat internet secara Gratis

Judul di atas memang sangat dilematis kan?. bagaimana tidak, terdapat dua kepentingan apakah buku atau tulisan yang anda hasilkan akan dibawa ke penerbit atau diupload ke internet. Pada satu sisi, jika tulisan tersebut diterbitkan maka akan mendapatkan royalti dari pihak penerbit bukan?.

Bagaimana jika tulisan anda dishare lewat internet(Gratis-Red)?. Walaupun anda tidak mendapatkan royalti dari tulisan yang anda buat tapi pasti ada kepuasan tersendiri juga kan saat orang lain mendownload dan membaca atau bahkan membagi-bagikannya.

Ditinjau dari sisi pembaca, terdapat dua tipikal orang dalam membaca tulisan. Ada yang senang membaca tulisan dalam bentuk buku (print out) dan ada juga yang senang membaca tulisan dalam bentuk dokumen digital (pdf, doc, dll). Saya, termasuk yang tidak senang membaca dalam bentuk dokumen digital karena akan membuat mata lelah dan saya sendiri tidak mampu berlama-lama di depan komputer. Bagaimana dengan anda?. Dari uraian di atas, pembaca dapat mengambil kesimpulan sendiri “Antara menerbitkannya atau dishare lewat internet secara gratis”.

TidurnYa Orang-orang Sukses

Jika saya membaca kisah orang-orang sukses maka pasti rahasia pertama mereka adalah jam tidur hanya berkisar 3-4 jam sementara saya 7-8 jam sehari. Sangat bertolak belakang bukan?. Berarti saya tidak akan menjadi orang sukses kan?. Googling sebentar dan menemukan blognya Dhyan di sini. Semoga tulisan ini dapat membuat saya berubah dan mampu mengurangi jam tidur setidaknya 2-3 jam sehari agar bisa menjadi orang sukses baik dunia dan akhirat. Selamat BerJuang TeMan semoga bisa menjadi lebih baik..

MenerbiTkaN Buku di PublishER

Kali ini saya ingin berbagi cerita tentang pengalaman menerbitkan buku di penerbit Andi Offset Yogyakarta dan Elex Media Komputindo Jakarta. Sebenarnya tidak sulit menerbitkan buku. Beberapa tips sederhana agar tulisan kita bisa sampai ke toko-toko buku dan dibaca oleh banyak orang. Sungguh merupakan sebuah kebanggaan tersendiri bukan?. Berikut tips dari saya:

1. Selesaikan draft text dan isi untuk buku yang akan diterbitkan.

2. Setiap penerbit memiliki aturan tersendiri dalam penulisan seperti penggunaan jenis Font, Margin, dan lain-lain. Untuk menghindari editing berulang-ulang sebaiknya menghubungi pihak penerbit melalui email, telepon, dsb. Namun poin 2 ini tidak sesuai dengan apa yang saya lakukan saat menerbitkan buku. Seluruh draft dan isi (buku secara keseluruhan) saya selesaikan terlebih dahulu tanpa mencari informasi ke penerbit. Jadi tulisan tersebut sesuai dengan selera dan style saya TAPI tidak sesuai dengan standar penerbit. Sehingga kerugian di sisi editor penerbit yang akan mengedit buku kita setelah lolos dari meja redaksi. !Capek deh (EdiToR) harus mengedit terlalu banyak naskah dan gambar.

3. Mendatangi penerbit untuk menyerahkan draft dan Isi buku dalam bentuk hardcopy (Print out). Naskah dalam bentuk hardcopy cukup penting karena akan dibawa ke meja redaksi untuk dinilai apakah tulisan tersebut layak diterbitkan dilihat dari beberapa sisi seperti gaya bahasa, pangsa pasar/marketing, dan masih banyak lagi. –

4. Waktu yang dibutuhkan untuk proses editing buku, drafting sampai naik cetak berbeda-beda untuk setiap penerbit sehingga anda diharapkan bersabar sampai buku tersebut sampai ke pasaran.

5. Penerbit akan memberikan sampel buku cuma-cuma untuk setiap kali penerbitan.

Demikian sedikit pengalaman kepenulisan yang bisa saya berikan ke pembaca. Selamat menulis dan tetap semangat Ya.

Footer: Gambar di atas diambil di sini

Pertama Kali BelaJar Komputer & Linux

Jika orang bertanya, “Kapan pertama kali belajar komputer?” Maka pasti saya akan menjawab: pertama kali belajar komputer saat kuliah tahun kedua di sini. Mungkin semua orang akan menganggap bahwa saya termasuk orang yang sangat lambat mengenal komputer.

Tahun pertama di kampus mulai terasa akan pentingnya sebuah komputer. karena sebagai mahasiswa jurusan elektro akan banyak berhubungan dengan perangkat ini. Mulai dari mata kuliah “dasar pemrograman” atau hanya sekedar pembuatan laporan praktikum dan tugas kuliah dari dosen. Namun niatnya terpaksa diurungkan karena sesuatu hal.

Tahun kedua, itupun karena desakan kepentingan, Dengan berat hati meminta ke orang tua, beban orang tua di tahun-tahun tersebut cukup tinggi karena kakak harus menyelesaikan kuliah ditambah lagi dengan biaya kuliah dan hidup saya di Bandung cukup tinggi. Tapi namanya orang tua tidak akan pernah menolak keinginan anaknya demi pendidikan. Thanks to My Parents..

Bingung dengan Mail ServerKu

Akhir-akhir ini mail server saya sedikit bermasalah terutama jika harus mengirim email ke mail yahoo. Email yang saya kirim sering telat atau bahkan tidak sampai sama sekali. Tapi lain halnya dengan email yang dikirim ke selain yahoo dengan segera akan sampai ke tujuan.

Kira-kira kenapa Ya? Saya coba tanya ke Mr. google dan mendapatkan link ini atau link ini. Ya sudah, nanti malam saya coba re-konfigurasi postfix, semoga permasalahannya cepat terselesaikan dan dapat mengerjakan hal lain. Selamat berkarya TeMan

Sumber gambar: http://stayviolation.typepad.com/chucknewton/images/2008/06/10/computer.jpg

Upload blog di Internux

Sebelum sarapan, saya sempatkan untuk menuliskan blog tambahan ini. Blog ini akhirnya bisa diupload di bawah domain kawananu.com. Balik kantor sore kemarin saya sempatkan untuk main ke Internux sekedar mengupload beberapa data karena akses dari luar terasa lambat dan butuh waktu yang lama untuk menyelesaikan proses transfer filenya. Ya sudah, sekalian untuk memeriksa kondisi fisik serverKu.

D Internux ketemu dengan Kak Fadli teman baru yang juga salah satu aktifis LUGU Makassar. Sekitar 1/2 jam semua data telah diupload serta konfigurasi blog telah selesai dan saatnya untuk melanjutkan tulisan di rumah saja.

Pagi Ini

“Pagi ini ayamku berkokok keras sekali “..”seperti memanggil Bangunkan aku dari mimpiku” . ooo. “Hari ini aku bahagia kau kembali” Sebuah penggalan lagu dari Iwan Fals cocok untuk suasana pagi ini. Semua anggota keluarga sangat sibuk dengan urusan masing-masing , ada yang mandi, makan pagi, berolahraga, dan membersihkan rumah serta sejumlah aktifitas lain. Sedangkan saya buru-buru menyalakan PC untuk berselancar dunia maya dan menulis blog sambil mendengarkan lagu-lagu Iwan Fals seperti `Guru Oemar Bakri`, Piyu dengan `Entah` Green Day dengan `Time oF Life`, Slank dengan judul `Kamu Harus Pulang`, `I miss U but I Hate You`, Eross dengan `GiE` serta Dewa dengan `Laskar Cinta` nya.

Alarm sudah berbunyi menandakan saatnya untuk mandi dan sarapan karena harus berangkat, semoga hari ini merupakan hari yang cerah dan selalu diberi keberkahan hidup oleh Allah SWT, Amin..