Ketika Kehilangan Buku

Sebuah buku terkadang begitu berharga buat kita, apalagi jika buku tersebut dengan susah payah mendapatkannya. Beberapa buku text book Debian GNU/Linux yang pernah saya beli dengan jumlah halaman rata-rata 500-an. Seluruh buku tersebut telah hilang. Salah satu contoh buku yang penulis pernah miliki seperti gambar di samping.

Ceritanya begini, Saat kerja di PT. Siemens, seluruh buku di Bandung saya bawa ke tempat kost-an di Pancoran Jakarta. Pembelian buku tidak berhenti sesampai di Jakarta malah bertambah karena selain akses untuk pembelian buku, juga sudah ada rejeki berupa gaji sendiri. Jadinya tidak perlu meminta ke orang tua lagi.

Kemudian pindah kerja ke Ericsson di Wisma Pondok Indah akhir tahun 2006. Karena akses ke WPI cukup mudah dari pancoran, akhirnya saya memutuskan untuk tetap tinggal di kost-an yang lama serta karena alasan pemindahan buku yang banyak pasti akan sangat merepotkan.

Sebulan kerja di Ericsson, sang manager meminta untuk penempatan di Makassar karena alasan orang Makassar. Pemberitahuan ini begitu mendadak dan waktu yang diberikan satu hari saja. Sebagian barang saya drop kembali ke Bandung kecuali seluruh buku yang saya miliki karena akan dibawa ke Makassar.

Karena banyak barang tambahan yang harus saya bawa balik, akhirnya buku-buku tersebut untuk sementara saya simpan di depan kamar kost yang rencananya akan saya ambil kemudian saat balik ke Jakarta.

Sebulan kemudian balik ke Jakarta untuk training di kantor, dan dengan perasaan sangat menyesal buku-buku tersebut telah hilang entah kemana. Sungguh amat disayangkan karena kebanyakan adalah text book yang harganya lumayan…

Beberapa dari buku tersebut begitu berharga bagi saya dalam artian isi dan materi yang diangkat sangat bagus. Hu..Mau memesan buku yang sama untuk kedua kalinya terasa berat karena pengeluaran harus diperhitungkan lagi. Ya sudah, semoga lain kali ada kesempatan dan kelonggaran dana untuk membeli buku-buku tersebut.

Sumber Gambar – http://slog.thestranger.com/files/2008/03/scaled.books-5001.jpg

Termasuk Kecanduan Internet kah?

Malam ini sudah menunjukkan pukul 01.30 padahal besok harus masuk kantor seperti biasa. Gila, sudah hampir 24 jam di depan komputer. Aktiftas pun tidak berarti apa-apa karena hanya mengedit template website serta mencari artikel-artikel menarik.

Apakah hal ini merupakan indikasi dari sebuah kecanduan. Dulu, saat masih kuliah sering mengejek teman kalau kecanduan internet membuat pergaulan di dunia nyata kurang sehat. Dan kenyataannya demikian yang terjadi pada kawan sekaligus sahabat penulis. Ternyata penyakit itu sedang menghinggapi saya. Uhh..

Hari-hari libur pun diisi dengan aktitifitas di depan komputer. pulsa untuk internetan pun kian hari semakin membengkak padahal di kantor juga disiapkan koneksi internet yang cukup kencang.

Semoga hari esok bisa sedikit mengurangi ketergantungan internet dengan berusaha mengalihkan perhatian ke hal lain atau mencari alternatif lain sehingga bisa terhindar dari komputer untuk sementara waktu.

Memang harus saya akui bahwa komplain dari keluarga juga sudah sangat sering dilayangkan ke penulis tapi sedikit dihiraukan dengan berbagai alasan. Maaf..maaf seribu maaf ternyata saya sudah kecanduan internet.

Sumber Gambar: http://news.bbc.co.uk/olmedia/images/_37928_tp_addicted300.jpg

Menulis:Hal Menyenangkan VS Membosankan

Bagi sebagian orang menulis merupakan sesuatu yang sangat membosankan. Tapi bagi sebagian orang, menulis merupakan kegiatan yang sangat menyenangkan. Mengapa bisa menulis merupakan sesuatu hal yang sangat menyenangkan?.

Layaknya seperti hobi yang lain, aktifitas kepenulisan jauh lebih fleksibel untuk dikerjakan setiap saat dan bisa dilakukan dimana saja seperti saat menunggu keberangkatan pesawat, dalam perjalanan kereta api atau bahkan bersantai di kedai kopi. Apapun bentuk kepenulisan baik itu sastra, non fiksi ataupun hanya sekedar catatan kecil dari sesuatu yang kita rasakan.

Namun kebiasaan menulis tidak akan datang dengan sendirinya, melainkan harus dilatih setiap saat karena penyampaian lewat bahasa tulisan jauh lebih sulit daripada disampaikan lewat bahasa lisan. Sebuah informasi yang disampaikan lewat bahasa lisan cenderung tidak bisa dikontrol alias baru terpikirkan setelah kita mengucapkannya. Lain halnya dengan bahasa tulisan, sebuah bahasa tulisan pastinya akan dipikirkan terlebih dahulu kemudian dituliskan.

Sebuah informasi yang disampaikan lewat bahasa tulisan juga dapat dikoreksi setiap saat atau bahkan dapat disempurnakan dengan rujukan dan referensi dari tempat lain. Inilah kedahsyatan tulisan dibanding jika dibahasan dalam bentuk lisan.

Memang awalnya menulis merupakan sesuatu yang sangat membosankan, tapi jika terus dilatih dan dilatih lagi maka tulisan dapat mengalir begitu lancar, hingga terkadang kita sendiri merasa takjub karena jumlah halaman yang telah diberi dengan goresan tinta sudah banyak. `Sedikit demi sedikit akhirnya menjadi bukit`, sebuah ungkapan yang dapat diidentikkan dengan dunia tulis menulis, dengan sekali duduk mungkin dapat menghabiskan puluhan halaman.

Rasa jenuh tentu akan dirasakan oleh setiap penulis, meskipun ini adalah hobi alias sebuah kesenangan. apalagi jika kegiatan tulis-menulis bukanlah menjadi sebuah hobi atau kesenangan. pasti akan selalu merasa jenuh, sampai-sampai tidak dapat menuliskan sepatah-kata pun di sebuah lembaran kosong.

Terkadang media untuk menulis seperti blog ini membuat pemiliknya selalu merasa ditagih secara tidak langsung untuk menuliskan tema-tema baru di blog, entah sadar atau tidak. pastilah rasa itu akan selalu muncul `Hei kapan aku diupdate lagi` sudah terlalu lama tidak ditulisi lagi!!. Jika ini sudah muncul, kemungkinan menulis sudah merupakan kesenangan bagi saya, bagi Anda dan bagi kita semua.

Sumber gambar http://purple-socks.webmage.com/writer.jpg

Hasil Kerjaan yang Tidak Pernah Terdokumentasikan

Judul ini sengaja saya angkat karena begitu banyak dari sahabat/teman saya di bangku kuliah, teman-teman linuxer (pengguna linux) yang saya kenal lewat internet menyesalkan atau tepatnya mengeluh bahwa mereka tidak memiliki dokumentasi sama sekali terhadap hasil kerjaan mereka selama ini.

Hasil kerjaan yang penulis maksud adalah saat berhadapan dengan `pingiun` (baca: linux). Padahal dokumentasi sangat perlu untuk sebuah bidang research/penelitian ataupun kerjaan yang sifatnya iseng-iseng saja atau tidak serius. Hal ini begitu penting karena dokumentasi dalam bentuk tulisan dapat berguna suatu saat nanti. Keuntungan lain dari dokumentasi yang rapih terkadang dapat diangkat menjadi sebuah tulisan yang bisa menghasilkan profit bagi penulisnya. Selain itu, tanpa kita sadari sebuah kebiasaan untuk selalu mendokumentasikan segala sesuatunya pasti berdampak positif bagi pelatihan kepenulisan bagi setiap orang yang melakukannya.

Ada hal yang menarik dalam hal kepenulisan dokumentasi saat berhadapan dengan GNU/linux. Saat mencoba sebuah aplikasi/software, banyak cara yang telah dilakukan tapi semuanya tidak berjalan pada sistem dan entah dengan cara yang mana yang terkadang luput ternyata bisa berjalan dengan sempurna. Untuk urusan kepenulisan dokumentasi terhadapat kasus di atas, penulis berusaha untuk menuliskan langkah demi langkah dari setiap hal walaupun itu gagal, kemudian tulisan tersebut saya edit pada bagian yang gagal kemudian diganti dengan cara atau langkah yang berhasil. Akhirnya bisa menjadi sebuah dokumentasi yang tertata rapih dan enak untuk dibaca. Bagaimana dengan Anda?.

Terkadang ada sebuah penyesalan pada akhirnya terhadap segala sesuatu yang telah kita kerjakan dan berhasil berjalan dengan sempurna pada sistem, tetapi tidak terdokumentasikan sama sekali. Kenapa bisa begitu?. Mungkin hanya masing-masing individu yang bisa menjawab. Saya tidak perlu menjawabnya..

Penulis dan Komputer Tua

Koran “Fajar” terbitan Makassar tertanggal 9 desember 2007 memuat sebuah cerita pendek yang cukup bagus (menurut saya pribadi). Isinya cukup membuat saya prihatin akan sebuah kecintaan dengan kerjaan sebagai seorang penulis lepas. Cerpen tersebut ditulis oleh Dul Abdul Rahman.

Diceritakan bahwa seorang dengan pekerjaan penulis lepas memiliki tanggungan seorang istri dan seorang anak. Sumber rejeki mereka dari oplah yang ia dapatkan dari publikasi hasil karyanya. Karena hidupnya begitu pas2-an maka sang istri memutuskan untuk membantu sang suami dengan membuka toko di depan rumah. Lumayan ramai karena letak rumah mereka berseberangan dengan sebuah sekolah dasar.

Setiap malam ia habiskan waktunya untuk menulis dengan modal sebuah komputer tua. Sungguh ironis memang, seorang penulis terkadang diidentikkan dengan kehidupan yang serba terbatas padahal begitu banyak orang-orang yang sukses juga lewat tulisan-tulisannya.

Ataukah pekerjaan seorang penulis masih dipandang sebelah mata karena tidak populer dan penghasilan yang sangat minim..Kalau saya pribadi, ingin terus menulis dan menghasilkan karya dalam bentuk buku sebagai hobi dan tetap melanjutkan pekerjaan utama sebagai seorang karyawan.

Tidak konsisten dengan Distribusi GNU/Linux dan Unix Varian yang Lain

Semalam saat sedang asyik-asyiknya berselancar di dunia maya, tiba-tiba ada pesan YM yang muncul. Pertanyaannya begini, “Mas, kalau saya menggantinya dengan FreeBSD bisa jalan ngk Ya?.”Aduh, saya malas membalasnya. Kenapa?, Pada awal diskusi sejak beberapa bulan ini menggunakan salah satu distribusi saja. Nah, Permasalahan belum selesai dan jika saya bisa menilai, permasalahannya adalah sederhana cuma karena kemalasan untuk mencarinya di Mr. Google saja.

Eh Malah sudah mau mengajukan FreeBSD lagi. oke lah kalau orang tersebut sudah familiar menggunakan FreeBSD, wong linux saja baru dikenalnya saat mau mengerjakan skripsi.

Jadinya saya benar-benar tidak membalas pesan di YM tersebut dan konsentrasi dengan kerjaan yang lain. Mohon maaf ya karena Anda selalu tidak konsisten dengan kerjaan. Hal-hal sepele yang seharusnya bisa dicari sendiri malah bertanya dan pertanyaannya selalu tidak fokus.

Membiasakan Diri untuk Selalu Sibuk

Satu minggu ini saya berupaya untuk menyibukkan diri entah dengan menulis, membaca buku, atau melakukan inventarisasi database di MSCserver ataupun di MGW. Untuk urusan inventaris database saya benahi sebagai catatan pribadi. Sehingga jika ada penambahan atau perubahan konfigurasi dapat dengan mudah ditelusuri.

Selama ini saya terlalu terlena dengan bersantai-santai ria, ternyata banyak hal yang harus saya pelajari agar tidak ketinggalan kereta. Di saat orang lain berkerja keras dan belajar banyak hal, saya hanya menyibukkan diri dengan pekerjaan-pekerjaan yang tidak bermanfaat.

Sekarang saatnya untuk bangkit kembali, mempelajari banyak hal. Dan harus ada keseimbangan satu sama lainnya. Mungkin belum ketinggalan kereta terlalu jauh. Jadi tekadkan lah Askari untuk bekerja keras mulai detik ini agar bisa menjadi yang lebih baik lagi. Selamat Bekerja KeRas Teman..

–Sumber gambar:http://www.ed-it.net.au/images/computer%20writer.jpg

Be a Great Husband – Agar Dicintai Istri

Suatu hari di bulan suci ramadhan yang lalu saya dan Rian sedang mendengar ceramah agama setelah melaksanakan shalat dhuhur. Ustadznya adalah seorang anggota DPRD Makassar. Cara pembawaan materinya sangat humor. Beberapa bahan ceramah beliau saya dapatkan di buku yang baru saja saya baca.

Memang buku ini diperuntukkan kepada orang-orang yang sudah menikah, tapi tidak ada salahnya kan kalau saya dan semua pembaca yang belum menikah membaca buku ini. Hitung-hitung sebagai sebuah pelajaran hidup di masa yang akan datang saat pernikahan telah tiba. Judul bukunya adalah `Be a Great Husband – agar dicintai istri`. Buku karangan Isham bin Muhammad asy-Syarif ini dapat dijadikan sebagai penuntun dalam membina kehidupan keluarga.

Tulisan saya kali ini saya ringkas dari buku karangan beliau semoga bermanfaat buat diri saya dan juga pembaca. Buku ini banyak bercerita tentang karakteristik seorang suami yang selalu menjadi dambaan bagi istri.

Berikut resensi dari buku “Be a Great Husband – Agar Dicintai Istri”:

Pindah Kerja, Kebiasaan Buruk?

Perusahaan tempat saya bekerja saat ini adalah perusahaan ketiga selepas dari kuliah. Mungkin saya adalah termasuk contoh buruk (terutama untuk sebuah loyalitas) karena dalam kurung waktu 2 tahun kurang sudah tiga kali pindah perusahaan. Di perusahaan pertama hanya bekerja kurang lebih seminggu karena tidak betah dengan habit kerjaan, walaupun orang-orangnya sangat bersahabat dan bidang kerjanya pun sangat menyenangkan karena berhubungan dengan GNU/Linux. Akhirnya saya putuskan untuk nganggur beberapa saat sampai akhirnya mendapatkan panggilan test di perusahaan ini dengan status sebagai karyawan kontrak (outsource).

Proses rekruitasi berjalan selama 3 bulan dan tepatnya januari 2006 mendapat kesempatan untuk bekerja di perusahaan tersebut. Syukur alhamdulillah, banyak teman-teman yang harus merangkak dari bawah sampai bisa mendapatkan kerjaan dengan penghasilan yang lumayan besar untuk ukuran seorang fresh graduate.

Antara menerbitkannya atau dishare lewat internet secara Gratis

Judul di atas memang sangat dilematis kan?. bagaimana tidak, terdapat dua kepentingan apakah buku atau tulisan yang anda hasilkan akan dibawa ke penerbit atau diupload ke internet. Pada satu sisi, jika tulisan tersebut diterbitkan maka akan mendapatkan royalti dari pihak penerbit bukan?.

Bagaimana jika tulisan anda dishare lewat internet(Gratis-Red)?. Walaupun anda tidak mendapatkan royalti dari tulisan yang anda buat tapi pasti ada kepuasan tersendiri juga kan saat orang lain mendownload dan membaca atau bahkan membagi-bagikannya.

Ditinjau dari sisi pembaca, terdapat dua tipikal orang dalam membaca tulisan. Ada yang senang membaca tulisan dalam bentuk buku (print out) dan ada juga yang senang membaca tulisan dalam bentuk dokumen digital (pdf, doc, dll). Saya, termasuk yang tidak senang membaca dalam bentuk dokumen digital karena akan membuat mata lelah dan saya sendiri tidak mampu berlama-lama di depan komputer. Bagaimana dengan anda?. Dari uraian di atas, pembaca dapat mengambil kesimpulan sendiri “Antara menerbitkannya atau dishare lewat internet secara gratis”.

TidurnYa Orang-orang Sukses

Jika saya membaca kisah orang-orang sukses maka pasti rahasia pertama mereka adalah jam tidur hanya berkisar 3-4 jam sementara saya 7-8 jam sehari. Sangat bertolak belakang bukan?. Berarti saya tidak akan menjadi orang sukses kan?. Googling sebentar dan menemukan blognya Dhyan di sini. Semoga tulisan ini dapat membuat saya berubah dan mampu mengurangi jam tidur setidaknya 2-3 jam sehari agar bisa menjadi orang sukses baik dunia dan akhirat. Selamat BerJuang TeMan semoga bisa menjadi lebih baik..

MenerbiTkaN Buku di PublishER

Kali ini saya ingin berbagi cerita tentang pengalaman menerbitkan buku di penerbit Andi Offset Yogyakarta dan Elex Media Komputindo Jakarta. Sebenarnya tidak sulit menerbitkan buku. Beberapa tips sederhana agar tulisan kita bisa sampai ke toko-toko buku dan dibaca oleh banyak orang. Sungguh merupakan sebuah kebanggaan tersendiri bukan?. Berikut tips dari saya:

1. Selesaikan draft text dan isi untuk buku yang akan diterbitkan.

2. Setiap penerbit memiliki aturan tersendiri dalam penulisan seperti penggunaan jenis Font, Margin, dan lain-lain. Untuk menghindari editing berulang-ulang sebaiknya menghubungi pihak penerbit melalui email, telepon, dsb. Namun poin 2 ini tidak sesuai dengan apa yang saya lakukan saat menerbitkan buku. Seluruh draft dan isi (buku secara keseluruhan) saya selesaikan terlebih dahulu tanpa mencari informasi ke penerbit. Jadi tulisan tersebut sesuai dengan selera dan style saya TAPI tidak sesuai dengan standar penerbit. Sehingga kerugian di sisi editor penerbit yang akan mengedit buku kita setelah lolos dari meja redaksi. !Capek deh (EdiToR) harus mengedit terlalu banyak naskah dan gambar.

3. Mendatangi penerbit untuk menyerahkan draft dan Isi buku dalam bentuk hardcopy (Print out). Naskah dalam bentuk hardcopy cukup penting karena akan dibawa ke meja redaksi untuk dinilai apakah tulisan tersebut layak diterbitkan dilihat dari beberapa sisi seperti gaya bahasa, pangsa pasar/marketing, dan masih banyak lagi. –

4. Waktu yang dibutuhkan untuk proses editing buku, drafting sampai naik cetak berbeda-beda untuk setiap penerbit sehingga anda diharapkan bersabar sampai buku tersebut sampai ke pasaran.

5. Penerbit akan memberikan sampel buku cuma-cuma untuk setiap kali penerbitan.

Demikian sedikit pengalaman kepenulisan yang bisa saya berikan ke pembaca. Selamat menulis dan tetap semangat Ya.

Footer: Gambar di atas diambil di sini

Pertama Kali BelaJar Komputer & Linux

Jika orang bertanya, “Kapan pertama kali belajar komputer?” Maka pasti saya akan menjawab: pertama kali belajar komputer saat kuliah tahun kedua di sini. Mungkin semua orang akan menganggap bahwa saya termasuk orang yang sangat lambat mengenal komputer.

Tahun pertama di kampus mulai terasa akan pentingnya sebuah komputer. karena sebagai mahasiswa jurusan elektro akan banyak berhubungan dengan perangkat ini. Mulai dari mata kuliah “dasar pemrograman” atau hanya sekedar pembuatan laporan praktikum dan tugas kuliah dari dosen. Namun niatnya terpaksa diurungkan karena sesuatu hal.

Tahun kedua, itupun karena desakan kepentingan, Dengan berat hati meminta ke orang tua, beban orang tua di tahun-tahun tersebut cukup tinggi karena kakak harus menyelesaikan kuliah ditambah lagi dengan biaya kuliah dan hidup saya di Bandung cukup tinggi. Tapi namanya orang tua tidak akan pernah menolak keinginan anaknya demi pendidikan. Thanks to My Parents..

Bingung dengan Mail ServerKu

Akhir-akhir ini mail server saya sedikit bermasalah terutama jika harus mengirim email ke mail yahoo. Email yang saya kirim sering telat atau bahkan tidak sampai sama sekali. Tapi lain halnya dengan email yang dikirim ke selain yahoo dengan segera akan sampai ke tujuan.

Kira-kira kenapa Ya? Saya coba tanya ke Mr. google dan mendapatkan link ini atau link ini. Ya sudah, nanti malam saya coba re-konfigurasi postfix, semoga permasalahannya cepat terselesaikan dan dapat mengerjakan hal lain. Selamat berkarya TeMan

Sumber gambar: http://stayviolation.typepad.com/chucknewton/images/2008/06/10/computer.jpg

Upload blog di Internux

Sebelum sarapan, saya sempatkan untuk menuliskan blog tambahan ini. Blog ini akhirnya bisa diupload di bawah domain kawananu.com. Balik kantor sore kemarin saya sempatkan untuk main ke Internux sekedar mengupload beberapa data karena akses dari luar terasa lambat dan butuh waktu yang lama untuk menyelesaikan proses transfer filenya. Ya sudah, sekalian untuk memeriksa kondisi fisik serverKu.

D Internux ketemu dengan Kak Fadli teman baru yang juga salah satu aktifis LUGU Makassar. Sekitar 1/2 jam semua data telah diupload serta konfigurasi blog telah selesai dan saatnya untuk melanjutkan tulisan di rumah saja.

Pagi Ini

“Pagi ini ayamku berkokok keras sekali “..”seperti memanggil Bangunkan aku dari mimpiku” . ooo. “Hari ini aku bahagia kau kembali” Sebuah penggalan lagu dari Iwan Fals cocok untuk suasana pagi ini. Semua anggota keluarga sangat sibuk dengan urusan masing-masing , ada yang mandi, makan pagi, berolahraga, dan membersihkan rumah serta sejumlah aktifitas lain. Sedangkan saya buru-buru menyalakan PC untuk berselancar dunia maya dan menulis blog sambil mendengarkan lagu-lagu Iwan Fals seperti `Guru Oemar Bakri`, Piyu dengan `Entah` Green Day dengan `Time oF Life`, Slank dengan judul `Kamu Harus Pulang`, `I miss U but I Hate You`, Eross dengan `GiE` serta Dewa dengan `Laskar Cinta` nya.

Alarm sudah berbunyi menandakan saatnya untuk mandi dan sarapan karena harus berangkat, semoga hari ini merupakan hari yang cerah dan selalu diberi keberkahan hidup oleh Allah SWT, Amin..