Buku Biografi Khalifah Rasulullah

Buku ini saya beli sekitar tahun 2013 saat masih bekerja di Ericsson Indonesia. Belinya di toko buku Gramedia di Pondok Indah Mall (PIM) Jakarta. Namun sayang belum sempat terbaca sampai saya ke Bandung kemarin dan melihat buku ini di tumpukan rak buku. Saya bawa ke Singapura untuk dibaca. Saat tulisan ini ditulis, baru selesai terbaca khalifah pertama setelah Rasulullah meninggal dunia yakni Abu Bakar.

Walaupun belum sempat membaca kisah Umar, Ustman dan Ali tapi setidaknya membuka sedikit wawasan saya tentang bagaimana perjuangan sahabat-sahabat utama Rasulullah untuk menegakkan Islam sepeninggal Rasulullah, bagaimana usaha sahabat untuk memerangi banyaknya nabi-nabi palsu yang bermunculan serta banyaknya orang-orang arab yang kembali menyembah berhala (murtad) setelah memeluk islam.

Tongkat estafet pertama dipegang oleh Abu Bakar untuk memimpin umat islam yang pusat pemerintahannya di Madinah. Saat pemilihan Abu bakar sebagai khalifah, awalnya terjadi perselisihan antar kaum Anshar (penduduk Madinah) dan kaum Muhajirin (penduduk Makkah) yang hijrah ke Madinah karena masing-masing kaum menginginkan menjadi pemimpin. dari Kaum Anshar ada Abu Ubaidah ibn al-Jarrah sementara dari kaum Muhajirin ada Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Umar tentu saja menolak untuk menjadi khalifah karena ada Abu Bakar salah satu sahabat paling utama nabi. Keutamaan-keutaman Abu Bakar akan saya ceritakan ditulisan yang lain saat mengupas satu demi satu kisah hidup para Khalifah Rasulullah.

Kaum Anshar memberi argumentasi mengapa pemimpin kaum muslimin harusnya dipegang olehnya. Mereka beralasan bahwa mereka adalah penolong Allah dan pemelihara Islam, sedangkan kalian – kaum Muhajirin – adalah kaum yang besar, namun sebagian kecil kaummu telah menyimpang.

Mendengar ucapan dari kaum Anshar, Abu Bakar bangkit berbicara yang dikenal sangat lemah lembut dan santun. Beliau memulai kata-katanya dengan pujian dan sanjungan kepada kaum Anshar. “Kebaikan yang kalian sebutkan tentang Anshar sama sekali tidak salah. Namun ketahuilah, kekhalifahan paling layak dipegang oleh seorang Quraisy yang mulia. Ia adalah orang Arab yang mulia dari sisi keturunan dan keluarga. Sungguh aku rida jika kekhalifahan dipegang oleh salah seorang dari dua orang mulia ini (Umar dan Abu Ubaidah). Berbaitlah kepada salah satu diantara keduanya sesuai dengan keinginan kalian”, ujar Abu Bakar sambil memegang tangan Umar ibn al-Khaththab dan Abu Ubaidah ibn al-Jarrah yang duduk di sisinya. Keduanya bangkit berdiri untuk dibaiat. Namu Umar berkata menanggapi ucapan Abu Bakar, “Sungguh aku menyukai ucapan Abu Bakar kecuali tentang diriku. Demi Allah, seandainya saat ini aku dibunuh dan mati, itu lebih kusukai dibanding harus memimpin suatu kaum yang di dalamnya ada Abu Bakar.”

Begitulah begitu banyaknya keutamaan yang dimiliki oleh Abu Bakar diantara para sahabat utama Rasulullah sehingga beliaunya yang paling layak menjadi Khalifah pertama kaum muslimin. Singkat cerita, Abu Bakarlah yang menjadi Khalifah pertama.

Beliau menjadi khalifah dalam waktu singkat yakni dua tahun lamanya. Selama periode kekhalifahannya, beliau memberantas nabi-nabi palsu yang banyak bermunculan, orang-orang murtad serta memerangi kaum Romawi dan Persia. Dari keseluruhan peperangan kaum muslimin hanya sekali saja kalah di medan perang itu pun karena koordinasi yang kurang baik.

Ketika kaum muslimin menghadapi pasukan Syria-Romawi di perang Yarmuk dimana pasukan kaum muslimin saat itu hanya berjumlah sekitar 24.000 yang dipimpin oleh Khalid ibn al-Walid sementara pasukan Romawi berjumlah 120.000 orang. Ada salah seorang pahlawan Islam yang ikut berperang dengan gagah berani yakni Said ibn Zaid. Biarlah ia menuturkan betapa dahsyatnya peperangan yang berlangsung di perang Yarmuk itu.

Pasukan Romawi datang mendekati kami dengan gegap gempita dan bergerak bagaikan sebuah gunung besar yang digerakkan tangan gaib. Di depan mereka berjalan para panglima perang dan para pendeta pembawa panji-panji Romawi sambil meneriakkan seruan peperangan. Di belakang mereka para tentara yang bersuara bagaikan halilintar menggemakan yel-yel peperangan.

Namun akhirnya pasukan Romawi kalah. Hiraklius raja Romawi merasa heran, bingung, kaget dan sedih mendengar kabar kekalahan pasukannya di Yarmuk. Ketika sisa pasukannya datang menghadap, Heraklius berkata, “Ceritakanlah kepadaku kaum yang mengalahkan kalian itu, bukankah mereka manusia biasa seperti kalian?”

Mereka menjawab, “Benar”. “Apakah jumlah mereka lebih banyak ataukah kalian yang lebih banyak?”

Salah seorang pemimpin pasukan yang tersisa itu berkata, “Kami kalah karena mereka adalah kaum yang selalu shalat di malam hari dan berpuasa di siang hari; mereka menepati janji, serta menyeruh kepada kebaikan-kebaikan dan mencegah kemungkaran; mereka saling menolong dan saling berbagi di antara mereka. Sebaliknya, kami adalah sekumpulan orang yang suka minum arak, berzina, melakukan segala yang diharamkan, mengkhianati janji, saling memurkai, menzalimi. menyeruh kepada keburukan serta mencegah manusia dari segala yang diridai Allah. Kami juga selalu membuat kerusakan di muka bumi.”

Heraklius berkata, “Engkau benar.”

Singapore, 9 August 2018.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *