Manila – Filipina

Photo lama yang masih tersimpan di external drive sebagai kenang-kenangan kalau pernah tinggal sementara (stay) di Filipina beberapa tahun silam tepatnya bulan Mei – September 2014. Di sana, saya bekerja selama lima bulan untuk sebuah penugasan singkat (STA) ke Ericsson Filipina.

Waktu itu ada proyek proof of concept (PoC) untuk operator Smart Communications, Inc., saya bekerja dalam satu tim yakni project managernya (PM) adalah Tiaghu Raman (India Malaysia), Antonis dimitriadis (Yunani) untuk solution architect, Cherry Garcia dan Boong (Filipina), serta beberapa orang dari global support center (GSC) China. Dan sempat dikenalkan dengan Abu Bakar Ibrahim (Abs) yang kemudian bertemu lagi di Singapura karena penugasan ke sini.

Istri dan anak-anak ikut ke sana selama empat puluh hari setelah mengambil cuti panjang dari kantor. Kebetulan Naya waktu itu masih SD kelas 1 dan Ibnu masih TK 0 jadi masih gambang untuk minta izin meninggalkan sekolah.

Kami melewati puasa ramadhan, shalat idul fitri, dan pemilihan presiden dan wakil presiden (pilpres) tahun 2014 di sana. Ini adalah kali pertama kami berpuasa di luar negeri dan di negeri non muslim pula sehingga terdapat perbedaan ketika berada di Indonesia. Saat itu saya selalu jumatan di kedutaan Uni Emirat Arab, shalat taraweh di market-market mall dan idul fitri di kedutaan besar Indonesia.

Tentu menjadi pengalaman tersendiri buat saya dan keluarga bagaimana tinggal di luar negeri jauh dari kampung halaman dan keluarga.

Photo ini diambil di depan gereja Manila Cathedral yang ada di dalam kota Intramuros – salah satu kota peninggalan Spanyol di sana.

Sisi lain yang masih berada di area gereja Manila Cathedral.

Ada sepeda dari bambu, keren idenya.

Berphoto dengan Naya di depan pintu gerbang Intramuros.

Kalau photo berikut di Manila Ocean Park yang masih berada di pusat kota Manila.

Masih di dalam area ocean park terdapat tempat mewarnai buat anak-anak. Naya dengan asyiknya mewarnai gambar sementara Ibnu asyik dengan bola.

Saatnya pulang ke Bandung dengan pesawat Philippines Airlines setelah empat puluh hari di Manila tepatnya di Taguig Bonifacio Global City semacam kota di dalam kota Manila.

Singapura Punya Jalur Baru Untuk MRT

Beberapa bulan lalu, Singapura sudah punya jalur MRT baru yang menghubungkan Tampines – Bukit Panjang melalui Expo. Dengan jalur baru ini, setidaknya terdapat alternatif untuk menuju Singtel exchange di Bukit Panjang jika saya sedang berada di kantor Ericsson.

Selama ini saya menggunakan East West Line (jalur hijau) dengan transit di Bugis kemudian menggunakan Downtown Line (jalur biru) untuk sampai ke Singtel Bukit Panjang dengan waktu tempuh satu jam.

Datang Kepagian ke Kantor

Waktu itu datang kepagian ke kantor, belum ada rekan-rekan kerja yang datang kecuali resepsionis. Mending selfie dulu dengan batik sebagai budaya lokal Indonesia walaupun di luar negeri.

Ericsson Singapore office, one @ Changi City – 2018

Pagelaran Seni di Sekolah Indonesia Singapura (SIS)

Untuk kegiatan seni, Naya begitu antusias untuk ikut menjadi bagian dari pagelaran tersebut. Photo ini diambil saat acara kenaikan kelas beberapa waktu lalu di hall Sekolah Indonesia Singapura (SIS).

Masih di acara yang sama Naya dan teman-temannya sedang bermain angklung yang merupakan kesenian dari Jawa Barat. Setiap anak memegang angklung dengan nada berbeda-beda yang akan menghasilkan alunan musik yang indah saat dimainkan dengan pola tertentu.

Gambar-gambar Karikatur Keren di Bandara Changi Singapura

Singapura yang terkenal dengan negara yang multi etnis ini selalu menampilkan keragaman etnisnya seperti Melayu, Cina, serta India. Baliho, iklan-iklan yang bersifat sosial akan selalu menampilkan ketiga etnis ini. Sama halnya di bandara Changi Singapura, jika Anda berada di underpass terminal 4 maka akan disuguhi gambar karikatur yang keren-keren. Gambar karikaturnya menampilkan masyarakat Singapura era tempo dulu.

Karikatur yang satu ini untuk India ditandai dengan jenis masakan yang sedang dibuat, ada roti prata, murtabak, dan briyani.

Termasuk gambar berikut. Sepertinya sepasang suami istri sedang berjualan ornamen-ornamen khas orang India.

Sedangkan yang ini adalah untuk masyarakat Melayu. Pakcik dan makcik yang sedang berjualan.

Ibu yang sedang menjemur sarong batiknya.

Kalau yang berikut untuk etnis Cina ditandai dengan ornamen-ornamen yang berwarna-warni dan ada kalender Cina.

Seorang ibu yang sedang berjualan kueh di toko.

Seorang bapak yang sedang berjualan di warung tenda miliknya.

Terakhir salah satu buah favorit orang-orang Singapura adalah durian (menurut salah seorang customer saya di operator telekomunikasi di sini)

Kalau karikatur ini saya kurang paham makna dibalik gambarnya yang coba menampilkan kue, cangkir kopi/teh.

Di Merlion Park Singapura

Salah satu ikon wisata Singapura adalah Merlion Park yang terkenal itu dan tempat yang wajib didatangi oleh para wisatawan ketika berkunjung ke sini.

Saya lupa kapan saya ambil photo ini. Mungkin saat kunjungan kedua atau ketiga kalinya.

Buku Biografi Khalifah Rasulullah

Buku ini saya beli sekitar tahun 2013 saat masih bekerja di Ericsson Indonesia. Belinya di toko buku Gramedia di Pondok Indah Mall (PIM) Jakarta. Namun sayang belum sempat terbaca sampai saya ke Bandung kemarin dan melihat buku ini di tumpukan rak buku. Saya bawa ke Singapura untuk dibaca. Saat tulisan ini ditulis, baru selesai terbaca khalifah pertama setelah Rasulullah meninggal dunia yakni Abu Bakar.

Walaupun belum sempat membaca kisah Umar, Ustman dan Ali tapi setidaknya membuka sedikit wawasan saya tentang bagaimana perjuangan sahabat-sahabat utama Rasulullah untuk menegakkan Islam sepeninggal Rasulullah, bagaimana usaha sahabat untuk memerangi banyaknya nabi-nabi palsu yang bermunculan serta banyaknya orang-orang arab yang kembali menyembah berhala (murtad) setelah memeluk islam.

Tongkat estafet pertama dipegang oleh Abu Bakar untuk memimpin umat islam yang pusat pemerintahannya di Madinah. Saat pemilihan Abu bakar sebagai khalifah, awalnya terjadi perselisihan antar kaum Anshar (penduduk Madinah) dan kaum Muhajirin (penduduk Makkah) yang hijrah ke Madinah karena masing-masing kaum menginginkan menjadi pemimpin. dari Kaum Anshar ada Abu Ubaidah ibn al-Jarrah sementara dari kaum Muhajirin ada Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Umar tentu saja menolak untuk menjadi khalifah karena ada Abu Bakar salah satu sahabat paling utama nabi. Keutamaan-keutaman Abu Bakar akan saya ceritakan ditulisan yang lain saat mengupas satu demi satu kisah hidup para Khalifah Rasulullah.

Kaum Anshar memberi argumentasi mengapa pemimpin kaum muslimin harusnya dipegang olehnya. Mereka beralasan bahwa mereka adalah penolong Allah dan pemelihara Islam, sedangkan kalian – kaum Muhajirin – adalah kaum yang besar, namun sebagian kecil kaummu telah menyimpang.

Mendengar ucapan dari kaum Anshar, Abu Bakar bangkit berbicara yang dikenal sangat lemah lembut dan santun. Beliau memulai kata-katanya dengan pujian dan sanjungan kepada kaum Anshar. “Kebaikan yang kalian sebutkan tentang Anshar sama sekali tidak salah. Namun ketahuilah, kekhalifahan paling layak dipegang oleh seorang Quraisy yang mulia. Ia adalah orang Arab yang mulia dari sisi keturunan dan keluarga. Sungguh aku rida jika kekhalifahan dipegang oleh salah seorang dari dua orang mulia ini (Umar dan Abu Ubaidah). Berbaitlah kepada salah satu diantara keduanya sesuai dengan keinginan kalian”, ujar Abu Bakar sambil memegang tangan Umar ibn al-Khaththab dan Abu Ubaidah ibn al-Jarrah yang duduk di sisinya. Keduanya bangkit berdiri untuk dibaiat. Namu Umar berkata menanggapi ucapan Abu Bakar, “Sungguh aku menyukai ucapan Abu Bakar kecuali tentang diriku. Demi Allah, seandainya saat ini aku dibunuh dan mati, itu lebih kusukai dibanding harus memimpin suatu kaum yang di dalamnya ada Abu Bakar.”

Begitulah begitu banyaknya keutamaan yang dimiliki oleh Abu Bakar diantara para sahabat utama Rasulullah sehingga beliaunya yang paling layak menjadi Khalifah pertama kaum muslimin. Singkat cerita, Abu Bakarlah yang menjadi Khalifah pertama.

Beliau menjadi khalifah dalam waktu singkat yakni dua tahun lamanya. Selama periode kekhalifahannya, beliau memberantas nabi-nabi palsu yang banyak bermunculan, orang-orang murtad serta memerangi kaum Romawi dan Persia. Dari keseluruhan peperangan kaum muslimin hanya sekali saja kalah di medan perang itu pun karena koordinasi yang kurang baik.

Ketika kaum muslimin menghadapi pasukan Syria-Romawi di perang Yarmuk dimana pasukan kaum muslimin saat itu hanya berjumlah sekitar 24.000 yang dipimpin oleh Khalid ibn al-Walid sementara pasukan Romawi berjumlah 120.000 orang. Ada salah seorang pahlawan Islam yang ikut berperang dengan gagah berani yakni Said ibn Zaid. Biarlah ia menuturkan betapa dahsyatnya peperangan yang berlangsung di perang Yarmuk itu.

Pasukan Romawi datang mendekati kami dengan gegap gempita dan bergerak bagaikan sebuah gunung besar yang digerakkan tangan gaib. Di depan mereka berjalan para panglima perang dan para pendeta pembawa panji-panji Romawi sambil meneriakkan seruan peperangan. Di belakang mereka para tentara yang bersuara bagaikan halilintar menggemakan yel-yel peperangan.

Namun akhirnya pasukan Romawi kalah. Hiraklius raja Romawi merasa heran, bingung, kaget dan sedih mendengar kabar kekalahan pasukannya di Yarmuk. Ketika sisa pasukannya datang menghadap, Heraklius berkata, “Ceritakanlah kepadaku kaum yang mengalahkan kalian itu, bukankah mereka manusia biasa seperti kalian?”

Mereka menjawab, “Benar”. “Apakah jumlah mereka lebih banyak ataukah kalian yang lebih banyak?”

Salah seorang pemimpin pasukan yang tersisa itu berkata, “Kami kalah karena mereka adalah kaum yang selalu shalat di malam hari dan berpuasa di siang hari; mereka menepati janji, serta menyeruh kepada kebaikan-kebaikan dan mencegah kemungkaran; mereka saling menolong dan saling berbagi di antara mereka. Sebaliknya, kami adalah sekumpulan orang yang suka minum arak, berzina, melakukan segala yang diharamkan, mengkhianati janji, saling memurkai, menzalimi. menyeruh kepada keburukan serta mencegah manusia dari segala yang diridai Allah. Kami juga selalu membuat kerusakan di muka bumi.”

Heraklius berkata, “Engkau benar.”

Singapore, 9 August 2018.

Menikmat Angkutan Kota (Angkot) Bandung

Sudah lama saya tidak naik angkot saat berada di Bandung akibat banyaknya alternatif transportasi umum saat ini seperti gojek, gocar, grab. Dua minggu lalu (hari Sabtu dan Minggu) saya di Bandung untuk sebuah keperluan yang mendesak. Namun karena kartu telepon Indonesia saya tidak dilengkapi dengan paket data sehingga dua hari tersebut tidak memiliki akses Internet.

Jadilah saya tidak bisa menggunakan aplikasi online untuk memesan gojek/gocar/grab. Solusinya adalah menggunakan transportasi konvensional yakni angkutan kota alias angkot. Ternyata masih banyak masyarakat yang menggunakan angkot di tengah persaingan moda transportasi yang sangat beragam sekarang.

Photo yang saya ambil saat perjalanan dari Riung Bandung menuju Samsat (Sukarno Hatta) tanpa meminta izin terlebih dahulu ke penumpang lain (Maaf ya bu dan de’).

Asyik juga merasakan naik angkot setelah sekian lama tidak menggunakannya.

Gagap Teknologi – Pencairan Cek

Bekerja di industri teknologi informasi dan telekomunikasi seharusnya melek teknologi termasuk hal-hal yang berhubungan dengan dunia keseharian.

Minggu kemarin saya, istri, dan anak-anak ke bank OCBC untuk mencairkan cek sisa uang kursus bahasa inggris anak saya.

Baru kali ini saya berhubungan dengan urusan cek sehingga tidak tahu seluk beluknya dan konyolnya lagi tidak cari-cari di Internet sebelum berangkat.

Sesampai di bank OCBC di Paya Lebar mall, saya pun mengambil antrian. Sepuluh menit menunggu, giliran dipanggil oleh teller. saya perlihatkan cek tersebut ke teller bank dan setelah diperiksa olehnya, sang teller pun mengatakan bahwa pencairan bukan di teller OCBC, tetapi di deposit box atau ke teller bank DBS dimana cek akan dicairkan. Saya hanya memiliki rekening di bank DBS sehingga harus mencairkannya di bank DBS juga walaupun ceknya dari bank OCBC.

hehe, udik juga ternyata…

Yang lagi ramai tentang pelican crossing di Jakarta

Semalam sempat melihat berita yang lagi hangat di Jakarta tentang pembongkaran JPO (jembatan penyeberangan orang) dan menggantikannya dengan pelican crossing oleh gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Timbul pro dan kontra.

Saya sendiri mendukung tindakan tersebut karena tujuan utamanya adalah untuk estetika kota dan tujuan jangka panjang yakni akan disiapkan underpass untuk penyeberangan. Bagi saya ini bukan sesuatu yang perlu diperdebatkan karena sesuatu yang lumrah dan tidak terlalu istimewa.

JPO sendiri sebenarnya bisa menjadi ditampilkan lebih menarik tanpa merusak pemandangan/estetika kota. Saya ambil contoh di Singapura untuk penyeberangan orang ada tiga yakni JPO, pelican crossing, dan underpass. Ketiga-tiganya tetap dipakai.

Photo berikut terlihat pelican crossing di Marine Parade Singapura yang di sisi kirinya sedang ada proyek MRT.

Sementara photo berikut adalah salah satu Underpass untuk penyeberangan orang di stasiun MRT Paya Lebar yang menghubungkan bus stop dan stasiun MRT serta Mall perbelanjaan sehingga saling terintegrasi satu dengan yang lainnya.

Photo berikut untuk JPO di daerah Upper east coast road.

Terkadang masyarakat kita terlalu banyak menghabiskan energi untuk berdebat tentang sesuatu yang tidak perlu. Masih banyak hal lain yang lebih bermanfaat untuk dipikirkan dan bukan untuk diperdebatkan.

Singapura, 3-Agustus-2018