Menulis?

“Menulis”, ah terkadang hanya sebuah kata yang sering diucapkan bukan?.Namun untuk memulainya terkadang begitu sulit terutama untuk membuat naskah buku atau artikel yang akan dikirim ke sebuah majalah. Dari sebuah obrolan ringan saat makan siang di kantor, Saya sempat memuji salah seorang kawan yang juga merupakan senior di kampus dulu tentang kemampuan skill beliau namun ia membalas dengan ucapan ini: “Betul tapi saya tidak setenar kamu”.

Memang betul Beliau memiliki kapasitas keilmuan yang sangat hebat dan semua orang yang pernah mengenalnya pasti akan berkata demikian juga. Namun kata beliau saya lebih terkenal dari dia, Hehe… Salah satu cara untuk melejitkan diri kita adalah dengan menulis. Menulis merupakan aktifitas yang membutuhkan pemikiran mendalam demi lestarinya sebuah pengetahuan. Tujuan saya menulis salah satunya adalah untuk kelestarian keilmuan itu sendiri bagi diri saya dan bagi pembaca buku saya tentunya. Tujuan lain saya menulis adalah untuk terus memupuk semangat dalam pencarian ilmu, karena dengan menulis tadi rasa ingin tahun tentang suatu hal semakin besar dan juga akan meningkatkan minat baca saya dengan sendirinya.

Patut disayangkan orang-orang dengan kemampuan skill yang sangat bagus terkadang hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri dan tidak buat orang lain dan seiring perkembangan waktu ilmu tersebut akan hilang dengan sendirinya tanpa berbekas sama sekali. Atau mungkin saja ada orang yang dengan kemampuan skill yang bagus dan tidak ingin untuk berbagi dengan orang lain dengan tujuan bahwa ia akan hebat sendiri dan semua orang akan memuji dia. Tapi sampai kapan itu akan berlangsung?.

Saya bukanlah Albert Einstein bukan juga seorang Prof. Dr.Ing BJ. Habibie dengan tingkat kejeniusan otak yang sangat tinggi alias IQ yang jauh di atas rata-rata yang dapat mengingat setiap perkara yang pernah dialaminya (mungkin). Saya hanya berusaha untuk menuliskan setiap detail aktifitas keilmuan dan proses pembelajaran segala sesuatu agar suatu saat jika saya membutuhkannya, tinggal dipelajari kembali tanpa harus menghabiskan waktu yang lebih banyak untuk sekedar mencari materi yang sama di google.com atau di pelbagai buku tentunya.

Kita tidak mungkin tahu siapa Pramoedya Ananta Toer, Al-Ghazali, Ibnu Sina, Andrea Hirata, Haji Abdul Karim Amrullah (Buya Hamka), dan sederatan toko terkenal lainnya lewat keilmuannya jika mereka tidak menghasilkan sebuah karya tulis yang bisa dinikmati sampai saat ini.

Balik ke abad 13 yang lalu, ketika buku-buku di seluruh perpustakaan di Baghdad, Irak dibakar dan sejak saat itu hampir sebagian besar peninggalan pemikiran islam pun musnah seiring terbakarnya buku-buku di perpustakaan tersebut. Tujuannya adalah untuk mengubah peradaban manusia. Karena buku adalah tiang dari peradaban.

Adalah sangat wajar jika efek lain dari aktifitas kepenulisan ini adalah kepopuleran seorang penulisnya. Dan efek tersebut terkadang menjadi pemicu kembali untuk terus menghasilkan karya dalam bentuk tulisan. Ah ini terkadang hanya menjadi lamungan malam pengantar tidur saja. Selamat tidur..

Jakarta 16 Juni 2011
sumber gambar dari link ini.

Rekomendasi buku jika ingin belajar Perl

Ketika saya pertama kali belajar bahasa Perl, saya bingung harus memulai dari mana dan referensi rujukan yang terbaik yang mana, namun seiring dengan perjalanan waktu akhirnya jika boleh saya memberikan sebuah referensi terbaik bagi pembaca yang ingin belajar Perl adalah buku “Learning Perl” karya Randal L. Schwartz, Tom Phoenix, dan Brian d foy. Setelah tamat dengan buku ini mungkin pembaca dapat menggunakan buku lain seperti “Programming Perl” karya Larry Wall (pembuat bahasa Perl).

Berbicara tentang buku “Learning Perl”, materi yang disampaikan oleh sang penulisnya adalah lebih bersifat teoritis dan dasar dalam pemrograman Perl dengan bahasa yang sangat mudah dimengerti oleh seorang pemula. Kode programnya pun sangat sederhana.

Buku ini merupakan salah satu buku yang ada di rak lemari saya saat ini di samping buku-buku Perl lain. Mengapa Perl?. Adalah sebuah pertanyaan yang sangat baik dan penulis ingin memberikan sedikit gambaran kenapa Perl dan bukan bahasa pemrograman lain seperti Deplhi ataupun Visual Basic (VB)?. Namun perlu  dicatat bahwa saya bukan menjelek-jelekkan bahasa pemrograman lain karena balik lagi ke fungsi dan tujuan termasuk program aplikasi yang ingin dibuat.

Saat pertama kali bekerja di vendor telekomunikasi 2006, hampir tidak pernah saya mendapatkan orang di lingkungan kerja termasuk program-program yang ada di perangkat telekomunikasi yang diciptakan oleh vendor tersebut dengan menggunakan bahasa Delphi ataupun Visual Basic (Yang banyak adalah bahasa assembly, Perl, Java dan Python). Keempat bahasa ini memang sangat bersahabat dengan sistem operasi UNIX (SUN Solaris) yang banyak digunakan di mesin-mesin telekomunikasi.

Ketika pindah ke Ericsson tahun 2007, saya semakin sering menjumpai banyak karyawan menggunakan bahasa Perl untuk membantu aktifitas mereka dalam pekerjaan dan pada akhirnya saya pun mulai membuat program untuk parsing data di mesin MSC-S. Perl memang sangat powerful untuk pemrosesan data dan manipulasi teks karena Perl awalnya dibuat oleh Larry Wall untuk tujuan tersebut.

Selain itu, saya yakin dan percaya seratus persen kalau bahasa Perl juga banyak digunakan oleh orang-orang yang berkecimpung di GNU/Linux seperti seorang system administrator untuk membantu aktifitas pekerjaan mereka sehari-hari.

Bandung, 12 Juni 2011

Aktifitas Hari ini

Waktu sudah menunjukkan pukul 10:31 malam padahal masih banyak tulisan yang harus saya selesaikan. Dan mata pun sudah lima watt (alias ngantuk). Tulisannya harus dihentikan terlebih dahulu karena toh tidak dikejar waktu (seselesainya saja). Browsing sejenak dan sampai akhirnya mampir ke blog sendiri yang sudah beberapa hari tidak ter-update dengan tulisan baru.

Beberapa hari ini saya harus ke kantor testbed kustomer untuk sebuah testing yang harus kelar secepat mungkin. Yang masih bermasalah adalah paging response sehingga proses percakapan antara calling number dan called number belum berhasil. Tentunya masih ada parameter yang perlu di-check lebih teliti lagi karena mungkin ada konfigurasi yang salah terkait dengan paging di sisi MSC-s dan radio.

Balik dari kantor kustomer, saya mampir sejenak untuk membeli sebuah perangkat wireless router cisco seri E1000 di poin square di daerah Lebak Bulus. Wireless router ini rencananya akan saya pasang di rumah kami di Bandung karena saat akses internet menggunakan kabel, rasanya ribet apalagi jika anak kami Naya mondar-mandir, malah membuat khawatir jika kabel tersebut tersenggol oleh Naya dan membuatnya terjatuh ke lantai. Jadi saya putuskan untuk membeli perangkat tersebut.

Sesampai di rumah (Jakarta), saya coba setup perangkat tersebut dengan menggunakan modem yang terhubung ke mesin Debian GNU/Linux. Mesin server tersebut penulis jadikan sebagai gateway untuk akses Internet sekaligus sebagai proxy server. komputer klien akhirnya bisa terhubung ke jaringan Internet setelah proses setup selesai.

Sebenarnya malam ini penulis juga ingin mengoprek autentikasi FTP server dengan direktori LDAP namun belum kesampaian akibat badan yang sudah lelah setelah seharian bekerja.

Jakarta - 9 June 2011