Naya – 5 Bulan +

Saat ini anak kami Myisha Kallista Abinaya (Naya) sudah hampir menginjak usia 6 bulan. Alhamdulillah berat badan normal dan sehat walafiat. Sayangnya sudah tiga minggu penulis tidak bertemu dengan bunda dan Naya karena tugas keluar kota (Makassar). Semalam sambil melakukan perbaikan buku yang akan dibawa ke penerbit, bundanya Naya mengirimkan MMS photo-photo kelucuan Naya selama ditinggal. Naya sekarang sudah bisa duduk sendiri di atas kereta mainan sambil berusaha memegang mainannya dengan ekspresi yang sangat lucu tentunya.

Selain itu kelucuan Naya semakin bertambah karena Naya sudah bisa menekan tombol keyboard laptop punya bundanya.

ar1ar2

Sandeq Race – Makassar /Agustus 2007/

Tulisan ini sudah pernah saya angkat di blog sebelumnya (linknya ada di sini). Penulis memindahkannya ke halaman ini dengan tujuan untuk menampung seluruh tulisan saya yang terpencar-pencar di tempat lain.

Hari itu saya agak kesiangan ke pantai Losari karena Fuad dan Fadli (adik sepupu) sedang sibuk sepeda santai dalam rangka perayaan hari jadi kota makassar. Keikutsertaan fuad dalam ajang tersebut malah membawa peruntungan tersendiri buatnya karena doorprize sepeda ia dapatkan. Sungguh beruntung anak itu.

Perahu sandeq sendiri termasuk perahu layar tradisional yang digunakan oleh masyarakat Mandar (suku Mandar) untuk alat transportasi laut dan sekaligus alat pencari ikan di laut. Setiap tahun diadakan lomba perahu sandeq dengan rute Mamuju – Makassar (pantai Losari) dengan jarak tempuh sekitar 400 kilometer. Acara ini diadakan untuk memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia (RI). Dari segi spesifikasi perahu, perahu sandeq termasuk perahu berbadan kecil dan tipis serta tidak memiliki mesin sebagai penggerak tetapi hanya menggunakan layar berbentuk segitiga dengan bantuan tenaga angin. Berikut photo yang berhasil penulis potret di pantai Losari beberapa waktu yang lalu.

Beberapa photo tentang perahu sandeq ini hilang karena hardisk tempat menyimpan photo-photo tersebut rusak dan tidak ter-back up. Padahal ada photo yang cukup menarik karena penulis berhasil memotret seorang anak kecil yang melompat dari atas perahu sandeq ke laut dengan penuh atraksi.

sandeg_1

Naskah ditolak oleh Penerbit

Memang sudah lama saya ingin membawa naskah buku terbaru saya ke penerbit tapi belum sempat dengan berbagai kesibukan kantor. Kemarin, kebetulan habis kerja malam sehingga berangkat kantor bisa setelah makan siang.  Bangun lebih awal dari biasanya karena keinginan untuk segera mengetik beberapa proposal naskah ke penerbit yang bersangkutan.

Tepat jam 10 saya berangkat ke sebuah penerbit blah..blah.. di Jakarta tentunya. Buku ini adalah buku ke-4, tiga buku sebelumnya alhamdulillah sudah diterbitkan. Dengan penuh semangat, penulis menuju ke penerbit dengan menggunakan metro mini kemudian dilanjutkan dengan taksi karena takut telat ke kantor (pukul 13.oo sudah harus ada di kantor). Sesampai dilokasi, penulis bertanya ke resepsionis penerbitan di lantai dasar. Ternyata sang resepsionis mengatakan kalau untuk penerbitan sudah bukan di gedung ini lagi tapi berada di gedung lain yang jaraknya tidak terlalu jauh. Bergegaslah saya ke sana dan menanyakan lagi ke resepsionis gedung tersebut untuk bertemu dengan ibu editor. Dengan menitipkan sebuah KTP dan mendapatkan kartu pengunjung, saya menuju ke sebuah ruang besar tempat para editor bekerja. Berselang beberapa menit, saya ditemui oleh editor yang sempat mengedit buku saya sebelumnya.

Dengan sedikit berbasa-basi saya keluarkan naskah tersebut dan 4 lembar form proposal buku sebagai kelengkapan buku. Begitu melihat judulnya saja “Debian GNU/Linux”, ibunya langsung bilang “wah dari keputusan pimpinan buku jenis ini tidak kami terbitkan lagi ‘De”- :D, tapi tunggu dulu deh saya coba menemui manager saya dulu ya sambil membawa naskah saya. Tidak lama berselang, manager editor sudah ada di depan saya didamping ibu editor buku saya sebelumnya. Sambil memperkenalkan diri kepada saya dengan bapak manager, ibu meminta izin pamit dari saya. Baik bu silahkan..

Kami kemudian berbincang-bincang tentang naskah-naskah yang masuk ke redaksi. Perbincangan semakin mengalir dan sampailah pada kesimpulan bahwa penerbit menolak buku saya karena dari review penjualan buku untuk Linux sangat kurang di pasaran. lanjut bapak tersebut, kemungkinan pengguna Linux lebih banyak menggunakan referensi online dari pada membeli sebuah buku. Karakteristik ini yang sempat dipelajari oleh sang penerbit. Buku-buku yang banyak laku adalah buku yang mengangkat trend saat ini tentang blackberry, Iphone, twitter, facebook, dll. Nah ini yang sangat laku. Jika buku Anda ingin diterbitkan, silahkan menulis buku-buku tentang itu, lanjut bapak manager.

Memang harus saya akui bahwa berbicara industri maka untung rugi dari penerbitan pasti akan dipikirkan. Ehee,., akhirnya tulisan saya yang ke-4 ditolak juga oleh penerbit.

Merasakan sebuah penolakan naskah yang kata orang terkadang pahit dan membuat drop. Tapi inilah sebenarnya yang ingin saya rasakan biar saya dapat bercerita dan berbagi pengalaman ke anak-anak saya kelak. Hiks-hiks…

Alhamdulillah saya tidak merasa down apalagi patah arang untuk terus menulis. Sore harinya saya menyempatkan ke toko buku Gramedia di Pondok Indah Mall karena kebetulan hanya berjarak beberapa meter saja dari kantor. Cukup dengan jalan kaki saja tentunya. Tujuan kali ini saya ke Gramedia bukan untuk membeli buku melainkan mencari alamat penerbit lain.

Bolak-balik dari satu rak ke rak yang lain sambil mengamati karakteristik buku yang dihasilkan sebuah  penerbit dan sampailah pada sebuah buku yang diterbitkan oleh penerbit X. Terus terang saat ini saya sedang mencari sebuah penerbit yang kualitas gambar hasil cetakan sedikit tajam alias tidak kabur sehingga pembaca dapat menikmati tulisan kita tentunya.

Sebenarnya ada cara lain untuk menerbitkan naskah yakni self-publishing dan saat ini saya masih mencari-cari pola dan proses penerbitan dengan selft-publishing tersebut. tentunya saya harus mengurus ISBN, menghubungi percetakan, mencari layouter buku, menghubungi distributor, dll. Modal tentu saja harus disiapkan untuk ini. Sekian cerita singkat yang dapat saya bagi ke pembaca tentang sebuah penolakan naskah. Tapi sekali lagi saya tidak pernah putus asa dengan penolakan tersebut. Sambil menunggu jawaban dari penerbit yang lain, saat ini saya coba meng-update tulisan dan perbaikan di sana-sini.   Oh iya saya tidak mengirim naskah sekaligus ke beberapa penerbit karena harus satu-satu sesuai dengan etika kepenulisan/penerbitan tentunya. Nanti setelah penerbit yang bersangkutan menolak tulisan saya barulah saya akan membawanya ke penerbit yang lain.

2010 – Tahun ketiga ngeblog dan Mengelolah Server

Tahun 2010 adalah tahun ketiga server ini beroperasi untuk melayani web blog dan email saya untuk kawananu.com. Entah sudah berapa banyak tulisan yang ada di blog ini, walaupun tidak setiap saat saya menulis. Blog ini sangat bermanfaat terutama untuk menuliskan inspirasi yang ada, perjalanan keluar kota saya termasuk menyampah..hehee.e..

Ketika orang beramai-ramai menyewa hosting di ISP-ISP yang ada, saya justru berpikiran lain untuk tidak menyewa hosting ke penyedia layanan web hosting melainkan melakukan colocation sendiri di salah satu ISP yang ada di Makassar. Bahkan ketika ISP tersebut telah dibeli oleh perusahaan lain dan server saya pun ikut pindah..