Meraup Dollar di Negeri Orang

Bagi seorang engineer terutama yang bekerja di vendor-vendor asing seperti Nokia Siemens Network, Ericsson, Alcatel Lucent, peluang untuk bekerja di luar negeri terbuka sangat lebar tepatnya untuk menjadi seorang konsultan. Wacana ini sering terdengar dari pembicaraan setiap karyawan di vendor telekomunikasi saat sedang menikmati makan siang atau saat sedang suntuk dengan pekerjaan mereka di lapangan. Harus diakui bahwa dengan menjadi konsultan, pendapatan perbulan yang mereka peroleh jika dibandingkan dengan pendapatan karyawan tetap di vendor telekomunikasi terutama di Indonesia akan berbanding 6-10 x lipat. Jadi pendapatan mereka sebagai konsultan di luar negeri perbulannya sebanding dengan kami yang bekerja di Indonesia selama 6-10 bulan. Padahal jenis pekerjaan dan beban kerja mereka sama dengan kami yang di Indonesia.

Dengan ini patutkah kita iri hati dengan mereka?. tentu tidak, karena kesempatan seperti mereka juga terbuka sangat lebar bagi yang masih bekerja di dalam negeri. Permasalahannya adalah faktor mau tidaknya mengambil kesempatan tersebut tentunya dengan berbagai konsekuensi seperti berpisah jauh dengan keluarga di Indonesia, meninggalkan istri dan anak di Indonesia, atau memboyong mereka ikut bersama kita mengumpulkan pundi-pundi dolar di negeri orang. Bagi seorang istri yang tidak bekerja alias ibu rumah tangga tentunya tidak menjadi masalah untuk ikut bersama suaminya, namun bagaimana dengan seorang istri yang juga bekerja tentunya dengan posisi yang sangat menyenangkan dan di kota yang damai juga. Apakah kita membiarkan istri untuk melepas perkejaannya dan ikut bersama kita?. Berapa lama kita akan menjadi seorang konsultan?. Jika tujuan utamanya adalah mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, tentu tidak akan pernah habisnya. Jadi secara logika kita akan berada di negeri orang dengan sesekali balik ke Indonesia bertemu dengan keluarga, sisanya di habiskan di luar negeri.

Bagi penulis, menjadi seorang konsultan adalah step berikutnya setelah merasa cukup berada di Ericsson Indonesia. Namun setelah menikah, pertimbangan matang harus diambil sebelum memutuskan sesuatu terutama istri dan anak-anak nantinya. Penulis adalah laki-laki dan seorang kepala rumah tangga yang menjadi pemimpin bagi keluarganya, dan menjadi penyangga untuk seluruh keluarganya. Kemana rumah tangga akan dibawa tergantung dari suaminya. Bagaikan sebuah perahu layar dan diisi oleh beberapa orang penumpang, sang nahkoda lah yang akan mengatur layar sehingga dapat sampai ke tujuan dengan selamat.

Saat sang nahkoda melalaikan arah mata angin maka sampai kapan pun perahu tersebut tidak akan sampai ke tujuan. Analogi ini sebagai gambaran bagi penulis sendiri saat akan melangkah menlanjutkan pengembaraan hidup untuk menjadi seorang konsultan di negara nun jauh di sana. Apakah istri saya dan anak-anak nantinya ikut bersama penulis atau ditinggal di Indonesia?. Keputusan ini sangatlah berat karena tujuan utamanya adalah untuk mengumpulkan sedikit dolar sebagai deposit di Bank dan kembali ke Bandung untuk menjadi seorang penulis sebagai cita-cita berikutnya.

Kecuali alasan untuk pindah ke luar negeri dan menetap di sana tentunya tidak alasan untuk membawa keluarga ikut bersama kita. Jika istri dan anak kita tinggal di Indonesia, saya sangat takut sebagaimana pengalaman teman-teman expatriate di Siemens tahun 2006 bahwasanya anak-anak mereka mungkin saja tidak akan pernah sedih saat kematian mereka dan terkadang anak-anak mereka memanggil om ke bapaknya sendiri saat mereka pulang ke rumah.

Patut dibayangkan, pekerjaan mereka sebagai konsultan di luar negeri menghabiskan waktu 6-1 tahun atau diperpanjang lagi dan mereka balik hanya 1-2 kali saja dalam setahun terutama jika beban kerja mereka sangat padat. Saat istri sedang mengandung anak-anak kita dan ditinggal selama 1-2 tahun maka tentunya kita akan kehilangan masa-masa kecil anak-anak kita di Indonesia. Masa atau moment yang sangat berarti dan sangat sayang untuk dilewatkan.

Namun bagaimana jika tetap bertahan untuk bekerja di Indonesia?. Dengan posisi penulis yang saat ini bekerja di Jakarta dan tuntutan pekerjaan yang mengharuskan harus melakukan perjalanan luar kota sehingga frekuensi bertemu dengan istri juga sangat jarang. Penulis berfikir toh di Indonesia lebih sering berpisah dengan istri, mending menjadi konsultan dulu selama 1-2 tahun kemudian balik ke Bandung bersama keluarga.

Pengalaman teman-teman kerja yang menjadi seorang konsultan malah keasyikan untuk terus mengumpulkan pundi-pundi dolar. Sampai kapan?.

Jika ada teman penulis yang saat ini bekerja di luar negeri mohon memberi saran melalui blog ini tentang perasaan dan perubahan tujuan setelah menjadi seorang konsultan sehingga dapat menjadi pertimbangan sebelum kaki melangkah.

Terima Kasih

Sumber gambar-http://api.ning.com/

 

 

 

Film Twilight – diangkat dari novel karya stephenie Meyer

Balik dari Makassar sabtu malam dan langsung menuju Bandung untuk menemui istri yang sudah berangkat lebih awal karena alasan perkuliahannya yang tidak bisa ditinggal. Kebetulan beberapa hari sebelum Idul Adha, penulis memiliki kesempatan untuk balik ke kampung halaman bersama istri dalam rangka bekerja sekaligus merayakan Idul Adha bersama keluarga di Makassar dan Jeneponto.

Maklum, biaya tiket saya pulang balik alhamdulillah ditanggung oleh kantor sehingga hanya istri dan adik ipar saja yang harus bayar dengan uang pribadi sehingga bisa menghemat sedikit pengeluaran untuk perjalanan pulang. Sebuah kesyukuran tersendiri bukan ketemu dengan orang tua dengan biaya kantor..

Istri dan adik ipar berangkat ke Bandung pada hari selasa yang lalu sedangkan saya baru bisa balik ke Bandung pada hari sabtu malam. Sesampai di Bandung sudah menunjukan pukul 01.00 dini hari. Mendapati istri dalam keadaan demam tinggi sehingga perlu dirawat sejenak dan kemudian beristirahat. Alhamdulillah keesokan harinya sudah sembuh.

Singkat cerita, kami berencana untuk nonton twilight minggu sore namun baru terlaksana malam hari jam 21.00. Film ini bercerita tentang percintaan dua insan yang berbeda alam. Satunya manusia dan yang lainnya adalah seorang vampir.

Isabella adalah pemeran perempuan dalam film ini pindah bersama ayahnya yang seorang polisi ke Forks. Di Forks inilah ia bertemu dengan Edwards Culle yang seorang vampir. Kisah percintaan beda alam ini cukup menarik untuk ditonton. Apa pelajaran yang dapat kita ambil sebagai pelajaran pada film ini?. Bagi penulis, pelajaran yang bisa dipetik adalah sebuah pengorbanan untuk mempertahankan suatu hal. Keinginan untuk menghisap darah segar manusia harus ia buang jauh-jauh dan menjadi seorang “vegetarian” .