Liburan ke Bali Lagi – Outing Ericsson Indonesia

Hari ini tidak seperti biasa karena jam kerja dimajukan satu jam yakni pada pukul 7.00 WIB dan telah meninggalkan kantor pada pukul 15.00 WIB menuju bandara Soekarno Hatta. Kota tujuan kali ini adalah Denpasar Bali bukan untuk kerja melainkan refreshing yang “dihadiahkan” oleh kantor. Sebenarnya penulis malas untuk pergi selain karena waktu yang tidak tepat pada akhir pekan. Waktu akhir pekan bagi penulis adalah waktu untuk berkumpul dengan keluarga(istri) di Bandung. Maklum sehari-hari dihabiskan di Jakarta dan luar kota agar “dapur tetap ngepul” dan jika tidak berada di luar kota maka waktu weekend-nya akan dihabiskan di Bandung.

Oh iya, sehari-hari istri bekerja di Bandung sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi swasta sementara penulis di Jakarta sehingga weekend adalah waktu yang sangat berharga bagi kami berdua. Memang ini adalah resiko yang harus kami tanggung berdua akibat perbedaan kota. Sesuai rencana kemungkinan penulis yang akan pindah ke Bandung untuk menghabiskan hari tua mendatang karena bagi saya , Jakarta sudah tidak layak lagi untuk dijadikan sebagai tempat tinggal dan terutama buat pendidikan anak-anak kedepannya.

Memang berada dalam “zona aman” adalah bagaikan sebuah kue yang sangat lezat dan sangat sayang untuk ditinggal tapi hidup tidak selamanya kan?. Hidup terus bergulir dan hidup manusia selalu berada dalam pilihan hidup.

Balik lagi ke pokok bahasan yakni liburan ke Bali, tempat yang akan kami kunjungi pun tidak berbeda dengan liburan/outing yang diberikan oleh PT. Siemens Indonesia saat masih bekerja di sana. Rutenya Denpasar – Nusa Lembongan – dll..

Sekian dulu informasi jalan-jalan kali ini dan akan diupdate setelah perjalanan ke Bali hari ini dan 2 hari kedepan.

Update:

Lanjutan cerita selama liburan di Bali silahkan berselancar ke link ini.

Sumber gambar: http://phasezero.ca/img/space/travelling.jpg

Suasana pagi di suatu hari di Bandara Hasanuddin

Seperti biasa kali ini adalah perjalanan pulang dari Makassar ke Jakarta dengan penerbangan paling pagi dari Makassar. Hari ini adalah kali pertama saya masuk ke bandara Hasanuddin yang baru dengan desain mirip dengan perahu tradisional suku Bugis/Mandar/Makassar (Pinisi’). Kalau diperhatikan desain interiornya hampir mirip dengan bandara Juanda di Surabaya.

Keberangkatan pesawat jam 7.00 pagi WITA dan penulis sendiri telah berada di ruang tunggu pesawat jam 5.30 WITA atau waktu Indonesia bagian tengah, memang ada selisih dengan waktu Jakarta 1 jam lebih awal. Dengan desain ruang tunggu pesawat yang begitu elegan dan minimalis dan ruangan yang seluruhnya transparan sehingga penghematan penggunaan lampu mulai subuh hari dapat dilakukan.

Berikut adalah photo yang berhasil penulis ambil di ruang tunggu keberangkatan.

Suasana di pagi hari yang cerah ini dan matahari pagi yang masih tersipu malu dan perasaan malas sehingga  ia (matahari) masih bersembunyi di balik awan dan tampak begitu indah- Terima kasih Ya Allah atas seluruh nikmat yang diberikan kepada seluruh makhluk yang ada di muka bumi ini. Udara yang masih segar tanpa polusi yang selalu menghantui membangkitkan semangat untuk terus bekerja dan memulai seluruh aktifitas di pagi hari ini. Tambahan photo di ruang tunggu yang masih kosong..

Keputusan untuk menjadi seorang penulis sebagai profesi utama

Tulisan ini tidak untuk menggurui pembaca. Semata-mata penuangan ide tulisan yang ada di otak saya dan tentunya adalah harapan dan cita-cita saya semata.

Garis tangan tentang jalan hidup seseorang telah ditetapkan oleh Allah SWT, tapi tidak seorang pun yang dapat mengetahui jalan hidupnya akan seperti apa nantinya. Manusia hanya diberikan jiwa dan raga untuk berpikir dan bekerja keras untuk menggapai tujuan hidupnya. seluruh keputusan akan kemana arah hidup kita hanya dapat dicita-citakan dan tentu saja dengan usaha dan kerja keras, tidak dengan bersantai ria dan hanya mengharap durian akan jatuh dengan sendirinya. Jangan pernah berharap….

Termasuk untuk menjadi seorang penulis, bagi saya keputusan untuk menjadi seorang penulis adalah pilihan hidup selain menjadi seorang karyawan. Saya sadar bahwa untuk menjadi seorang penulis secara total masih terlalu dini karena masih banyak hal yang perlu saya pelajari di luar sana. Namun suatu saat, jika keuangan keluarga sudah relatif stabil alias relatif mapan maka penulis akan mengambil jalan hidup yang sedikit relatif berseberangan dengan kebanyakan orang, Yakni menjadi seorang PENULIS sebagai profesi utama dan pekerjaan lain adalah sambilan. Sehingga akan lebih banyak waktu bersama dengan keluarga dan dapat mendidik anak-anak dengan baik jika suatu saat nanti telah dikarunia oleh Allah anak, mengantar istri ke kampus dan kembali ke rumah untuk menulis dan menulis lagi. Semoga mimpi ini segera terwujud, Amin..

Sumber gambar – http://www.barbsbooks.com/

Kartu Lebaran dari Elex Media Komputindo

Beberapa minggu yang lalu penulis mendapat sebuah surat dari PT. Elex Media Komputindo Jakarta. Kebetulan istri saya yang terima surat tersebut di Bandung. Beliau cuma ngirim sms bahwa k’ari ada surat dari Elex Media yang isinya sebuah kartu lebaran.

Di halaman dalam terdapat beberapa tanda tangan mulai pimpinan redaksi, editor termasuk Ibu Linda selaku editor buku penulis yang telah diterbitkan oleh Elex Media. Lumayanlah menambah semangat untuk tetap menulis. Berikut tambahan hasil scanning untuk lembaran yang lain.

Selain dari Elex Media, penerbit Andi Offset Yogyakarta juga mengirimkan kartu lebaran serta kalender pada akhir tahun, tentu saja dengan embel-3mb3l dan logo penerbit.

Pekerjaan yang Terlalu Dipaksakan

Akhirnya bisa menginjakkan kaki kembali ke Padang setelah hampir 2 tahun. Kepergiaan ke Padang dalam rangka tugas kantor. Jarak Jakarta-Padang ditempuh selama 1 Jam 30 menit. Sebenarnya kerjaan di Padang terlalu dipaksakan karena gedung tempat perangkat MSC-Server serta MGw terpasang belum layak karena masih banyak debu (Perangkat-perangkat telekomunikasi cenderung sensitif terhadap debu).

Masker seharusnya tidak perlu digunakan dalam kondisi ruangan yang bersih dari debu. Kalau helm proyek yang ada di kepala saya adalah pinjaman dari kontraktor bangunan agar terkesan lebih keren padahal seharusnya tidak penting digunakan selama berada dalam ruang, tapi di luar ruangan sebaiknya digunakan karena resiko kecelakaan kerja cukup tinggi..hehehe…

Untuk makanan tidak menjadi permasalahan bagi penulis karena selera cukup sama dengan lidah orang Padang dengan santan dan pedas ala cabe Padang. Sekian perjalanan kali ini di kota Padang- Sumatera Barat. Sampai jumpa pada tugas dan tempat yang lain..

Kerja sambil liburan

Judul ini sengaja penulis angkat karena harus saya akui tingkat kejenuhan cukup tinggi saat sedang bertugas ke luar kota. Kerjaan kami sebagai orang vendor telekomunikasi terutama di departeman kami lebih banyak dihabiskan di site – istilah orang telekomunikasi “site” kantor customer (Telkomsel, Indosat, XL, NTS, dll). Bagi kami yang kebetulan diberi tugas untuk menangani project Telkomsel cenderung dihinggapi rasa bosan karena waktu yang dihabiskan di site lebih dari 2 Minggu walaupun kebanyakan nganggur alias menunggu kesiapan sistem lain yang terkait dengan perangkat kami.

Bulan Agustus lalu kebetulan saya ditugaskan untuk bring up MSC-Server baru sekaligus untukrehoming satu BSC di Pematang Siantar – Sumatera Utara. Sebagai orang muslim memang agak sedikit kewalahan untuk mencari makanan halal di sana dan terlalu banyak (maaf) anjing peliharaan masyarakat setempat sehingga harus berhati-hati dengan kotoran ataupun air liur sang anjing.

Karena kejenuhan yang menghinggapi setelah 2 minggu, akhirnya kami (saya dan Asep Supriadi) memutuskan untuk menginap di danau Toba bersama pak Zaenal-driver Asep selama di Sumut. Jarak Pematang Siantar ke Danau Toba hanya ditempuh kurang lebih satu jam perjalanan. Berikut photo-photo yang kami ambil pada salah satu sudut di sekitar danau Toba.

Gambar latarnya adalah danau Toba yang indah tanpa adanya kerusakan lingkungan, udara pagi hari yang masih sejuk membuat raga kita segar kembali untuk memulai seluruh aktifitas yang akan kita kerjakan pada hari ini.

Asep dan Pak Zaenal dengan latar awan di perbukitan yang berada di hamparan danau Toba.

Setelah photo dengan berbagai gaya, kami pun segera melanjutkan perjalanan kembali ke Pematang Siantar untuk memulai aktifitas pekerjaan kami. Sampai jumpa di danau Toba pada kesempatan yang lain.