Potret Kehidupan Masyarakat “Butta Turatea” Jeneponto

Jeneponto adalah salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan. Jeneponto terkenal juga dengan “Bumi Turatea” dan identik dengan kota “KUDA”, Ya kota kuda. Jika Anda telah masuk ke pusat kabupaten yakni di Bontosunggu [ibukota kabupaten Jeneponto] maka akan tampak sebuah patung kuda sebagai lambang atau simbol kabupaten Jeneponto.

Melanjutkan pembicaraan tentang julukan “Kuda”, hal ini disebabkan oleh kebiasaan masyarakat Jeneponto yang gemar memakan kuda. Di pasar-pasar tradisional akan sangat susah untuk mendapatkan daging lain selain daging kuda bahkan tidak ada.

Jarak tempuh dari Makassar ke Jeneponto 2 jam perjalanan dengan jarak tempuh 95 km. Perjalanan ke kabupaten Jeneponto akan melewati 2 kabupaten yakni Gowa dan Takalar. Saya sendiri adalah asli Jeneponto yang terlahir dan sempat mencicipi pendidikan di sana walaupun hanya sampai sekolah dasar saja, sisanya dihabiskan di Makassar dan Bandung. Tapi saya tidak akan berbicara tentang riwayat pendidikan saya di sini, penulis ingin mengupas tentang kabupaten ini ditinjau dari dua sisi.

Sisi pertama adalah julukan miring atau cenderung mengarah ke hal yang negatif dan sisi baik dari pandangan kacamata saya sebagai putra daerah yang pasti bersifat sangat subyektif. Tapi tidak mengapa, setidaknya dapat memberi gambaran sedikit tentang kabupaten ini.

Jeneponto dikenal dengan istilah “Pa’bambangang Na Tolo” adalah istilah dalam bahasa Makassar yang berarti sering marah tapi berotak dugu. Inilah istilah yang melekat cukup erat terhadap masyarakat Jeneponto sampai saat ini. Memang harus saya akui bahwa dari persentase para pejabat di kota Makassar jika kita mengambil sampel ini maka kenyataannya memang demikian, para pejabatnya didominasi oleh suku bugis meliputi kabupaten Bone, Sinjai, Wajo, dll. Sementara penduduk Jeneponto yang tinggal di Makassar kebanyakan kalangan bawah yang tidak berpendidikan dengan pekerjaan adalah tukang becak, kuli bangunan, buruh pelabuhan dan lain sebagainya walaupun pekerjaan ini bagi saya bukanlah pekerjaan hina karena halal daripada kerja di pemerintahan dengan mengambil hak orang lain dan korupsi.

Saat ditugaskan ke Makassar selama satu tahun, sesekali saya naik becak dari kantor ke rumah yang memang jaraknya tidak terlalu jauh dengan biaya sebesar Rp. 7.000 untuk sekali jalan. Dari obrolan di jalan, setiap tukang becak yang saya tanya adalah berasal dari Jeneponto. – kasian juga. Beruntunglah dan harus saya syukuri karena dapat mencicipi pendidikan tinggi dan nasib sedikit lebih beruntung dari mereka.

Pedih rasanya hati ini jika menyaksikan semua ini, kok harus Jeneponto?..Apakah orang-orangnya bodoh sesuai dengan julukan bagi masyarakat Jeneponto, atau bagaimana?. Sebagai gambaran saat bersekolah SD di Jeneponto dulu teman-teman banyak cerdas-cerdas. Atau asumsi saya mungkin orang-orang Jeneponto lebih banyak yang low profile sehingga tidak terekspose ke permukaan.

Sisi negatif lain Jeneponto (menurut cerita orang-orang di kendaraan umum saat perjalanan dari Makassar <-> Jeneponto) adalah terdapatnya [maaf] tempat pelacuran kelas teri yang dihuni oleh wanita-wanita di daerah ” Karama’ ” sebelum tikungan tajam dan menurun jika arah kita dari Makassar. Hal ini dapat saya simpulkan secara subyektif karena jeratan kemiskinan yang merajalela sehingga mereka mau melakukannya walaupun dalam hati kecilnya pasti akan berpikir menolak “Pelacuran”.

Saya pun tidak akan larut dengan pembahasan ini karena lebih tertarik untuk mengangkat tentang budaya masyarakat Jeneponto serta kondisi kabupaten ini.

Jeneponto sangat khas dengan makanan tradisional “Coto Kuda dan Gantala Jarang”, Jarang=Kuda (Bahasa Makassar). Saya sendiri senang makan coto kuda ini karena telah terbiasa dari kecil sampai sekarang. Jika ada kesempatan untuk ke sana terutama saat liburan idul fitri maka keluarga pasti akan menyiapkan santapan makanan dari olahan daging kuda. Bagi Anda yang tidak terbiasa dengan makanan ini pasti tidak akan berselera untuk mencicipinya. Tapi masyarakat Jeneponto tidak demikian, dalam pesta-pesta pernikahan tidak akan sah atau ada sesuatu yang kurang jika tamu tidak disuguhi dengan hidangan GANTALA JARANG.

Tentang rasa?. tidak berbeda jauh dengan daging sapi akan tetapi sedikit lebih kenyal. Tapi bagi masyarakat Jeneponto terdapat mitos bahwa dengan makan daging “Jarang” akan memiliki stamina kuat dan pada dagingnya terdapat banyak zat-zat anti tetanus walaupun belum dibuktikan secara medis.

Jeneponto pada dasarnya terbagi dalam dua wilayah yakni daerah pesisir pantai yang cenderung kering dan daerah pegunungan yang cukup subur. Namun Jeneponto lebih dikenal sebagai daerah tandus karena jalur penghubung antar kabupaten berada di pesisir pantai sehingga orang beranggapan bahwa Jeneponto adalah daerah yang tandus.

Daerah ini dikenal cukup tandus apalagi saat musim kemarau tiba untuk kondisi di daerah pesisir pantai sedangkan untuk daerah pegunungan di sebelah utara cukup subur dan dari hasil pertanian dan perkebunan menghasilkan sayur-mayur dan tanaman palawija. kondisi tanah yang tidak bagus bahkan retak-retak di daerah pesisir menyebabkan tumbuh-tumbuhan akan sangat sulit untuk hidup. Gambar berikut adalah kondisi tanah di Jeneponto yang saya potret saat pernikahan kakak saya tahun lalu.

Inilah gambaran betapa tandusnya tanah di Jeneponto saat musim kemarau datang. Kondisi suhu pun sangat panas pada saat itu. Mata pencaharian penduduk Jeneponto sebagian besar adalah petani, nelayan rumput laut, nelayan penangkap ikan, serta petani garam.

Anak-anak, wanita sedang mendorong gerobak air adalah pemandangan biasa di jalan saat Anda melintas di Kabupaten Jeneponto terutama pagi dan sore hari. Sementara orang dewasa (laki-laki) lebih banyak menghabiskan waktunya di sawah dan ladang walaupun tandus dan sebagian lagi sedang melaut. Namun orang-orang  Jeneponto tidak pernah putus harapan untuk menanti anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa berupa air hujan untuk membasahi ladang-ladang milik mereka. Masa paceklik sering dialami oleh masyarakat  jika hujan tidak turun. Akibatnya banyak penduduk Jeneponto yang kemudian beralih profesi dari petani menjadi tukang becak, supir pete-pete dan buruh di Makassar. Walaupun sebagian dari masyarakat Jeneponto tetap berusaha bertahan hidup di kampung halamannya. Karakter keras pada masyarakat Jeneponto mungkin akibat dari susahnya untuk bertahan hidup sehingga semua cara dapat ditempuh apalagi jika yang menjadi haknya diambil paksa oleh orang lain. Namun senyum dari kami (masyarakat Jeneponto) akan tetap Anda jumpai saat Anda bertegur sapa dengan kami. Sebagai penduduk asli Jeneponto, saya merasa kami adalah masyarakat yang sangat ramah bagi siapa saja termasuk bagi para pendatang.

Penulis sendiri terlahir dari sebuah keluarga dimana bapak saya adalah seorang pegawai negeri dan ibu saya adalah seorang pedagang. Sehingga saya tidak terlalu merasakan susahnya hidup di sana namun bagi sebagian besar masyarakat Jeneponto mungkin merasakan kehidupan yang serba sulit itu.

Hal lain yang dapat Anda jumpai dalam perjalanan ke Jeneponto adalah jualan “Ballo Tanning” yang berarti tuak manis yang diproduksi oleh pohon lontar atau dalam bahasa Makassar “Tala’ “. Rasanya memang manis dan tidak memabukkan. Sewaktu kecil, saat bermain-main di persawahan yang bersebelahan dengan perkebunan, saya terkadang ikut “nongkrong” untuk menyaksikan para petani pembuat gula merah (istilah kami untuk gula jawa) sedang membuat gula merah sehingga saya tahu persis bagaimana proses pembuatannya. Tuak manis inilah yang menjadi bahan baku untuk pembuatan gula merah tersebut. Sesaat sebelum matang, kita dapat mengambil sari pati dari olahannya untuk dijadikan “tenteng” (saya lupa namanya-semoga tidak salah, semacam permen gulali dan rasanya sangat manis).

Sisi positif dari Jeneponto adalah budaya siri’ [rasa malu yang tinggi] untuk hal yang jelek-jelek walaupun juga dimiliki oleh hampir seluruh suku di Sulawesi Selatan, tapi budaya ini masih begitu melekat bagi masyarakat Jeneponto sebagai sebuah suku Makassar. Jika harga diri telah diinjak-injak maka mereka lebih rela untuk mati dari pada harga dirinya direndahkan oleh orang lain. Dan salah satu pompa pemicu keberhasilan adalah budaya siri’ ini yang harus melekat dalam diri setiap putra/i Turatea.

Jalur perjalanan yang dilalui sangat indah karena pemandangan pinggir laut dan petak-petak sawah untuk pembuatan garam dapat Anda jumpai di sini.

Satu hal yang bisa membuat Kabupaten Jeneponto bisa maju adalah dengan dibangunnya waduk Kareloe. Jika ini bisa diperjuangkan oleh pemerintah kabupaten Jeneponto maka saya yakin Jeneponto akan berubah. Jeneponto akan Jauh lebih makmur dengan hasil pertanian dan perkebunan tentunya. Setelah itu baru membangun Sumber daya manusianya, tentu Jeneponto akan  sangat maju. Idealis sekali ya, tapi tidak mengapa semoga bisa menjadi sebuah doa tentunya.

Pemerintah kabupaten Jeneponto bisa membangun SDM dengan cara memberikan pendidikan yang lebih tinggi lagi bagi guru dengan pemberian bea siswa dan perbaikan sarana dan prasana pendidikan, Semoga ini bisa terwujud entah pada periode dan pemerintahan siapa, atau pada pemerintahan saya kali ya.heheheh. Ups, saat ini kayaknya belum memungkinkan karena belum punya milliaran rupiah untuk biaya kampanye, dll.  Tapi tetap harus optimis kan.

Demikian sedikit oleh-oleh buat pembaca tentang khasanah tanah air Indonesia khususnya Butta Turatea Jeneponto.

Note:
Penulis sendiri terlahir  dan sempat mengecap pendidikan TK dan SD di Jeneponto. Orang tua
dan keluarga besar berada di Jeneponto.

Ingin Mengangkat Tulisan Tentang Budaya Jeneponto

Saat ini saya sedang mempersiapkan sebuah tulisan tentang “Bumi Turatea Jeneponto”. Photo-photo tentang Jeneponto sudah saya siapkan saat melakukan perjalanan ke kampung halaman kemarin. Sabar ya, kabupaten di Sulawesi Selatan ini dikenal cukup terbelakang dengan berbagai julukan negatif yang melekat terhadapnya, tapi bagi masyarakat Jeneponto tidak begitu terganggu dengan julukan tersebut.

Saya sendiri ingin mengangkat dua sisi budaya Bumi Turatea Jeneponto sebagai suku Makassar yang terkenal dengan istilah “Pa’bambangang Na Tolo”

Balik Ke Makassar lagi

Setelah perjalanan panjang dari Makassar – Denpasar – Bandung – Jakarta dan kembali ke Bandung lagi Akhirnya hari ini merupakan hari terakhir dari cuti saya selama 2 minggu. Asyik juga bisa rehat sejenak dari aktifitas kerja untuk mendapatkan sebuah semangat baru. Berangkat dari Bandung pukul 3:30 Pagi dengan Xtrans travel di depan ciwalk Bandung. Seharusnya jadwal keberangkatan dari Bandung pukul 2:30 pagi tapi ternyata Xtrans tidak melayani antar jemput akhirnya ketinggalan.

Jam 3:00 saya mencoba menelpon travel tersebut dan menanyakan bahwasanya sudah jam 3:00 masih belum ada jemputan ke rumah. Uh..salah.”TIDAK ADA FASILITAS UNTUK ANTAR JEMPUT PAK, Semuanya harus berkumpul di Bumi Xtrans-” Wah jadi malu..Ya sudah saya harus menggunakan armada berikutnya. Perjalanan dari Bandung ke Cengkareng cuman menghabiskan waktu 2 jam. Selama perjalanan memang saya hanya menghabiskan untuk istirahat saja agar pagi hari tidak mengantuk di Bandara dan perjalanan ke Makassar.

Tulisan ini saya tulis saat menunggu keberangkatan pesawat karena mau membaca beberapa buku yang saya beli dengan istri di toko buku Gunung Agung tapi rasanya sedikit malas. Ya, sudah membacanya kita tunda dulu, biar di pesawat saja. Sekarang saatnya untuk ngeblog.

Bolak-balik Bandung-Jakarta untuk Interview

Hari ini merupakan hari yang begitu menyenangkan sekaligus melelahkan karena harus bolak-balik Bandung-Jakarta untuk keperluan interview dengan line manager baru karena keharusan untuk pindah ke departemen lain. Berangkat dari Bandung pukul 10 pagi dan sampai di kantor (Jakarta) jam 1:30 siang.

Shalat di mesjid Pondok Indah kemudian menuju EO2 untuk keperluan interview dengan bapak Agus Rotua. Proses interview hanya berlangsung tidak lebih dari 5 menit saja dan langsung kembali ke Bandung. Awalnya ingin ke departemen sebelumnya tapi berhubung masih cuti, akhirnya saya memutuskan untuk segera angkat kaki dari Jakarta. Alhamdulillah sampai di bis baru hujan lebat sehingga terhindar dari hujan.

Makan siang baru terlaksana di bis, kebetulan sang istri membekali makan siang sehingga langsung tancap.. Maklum untuk mencari makan siang di daerah Pondok Indah agak susah karena harus ke mall dan rasa malas yang menghinggapi sehingga saya putuskan untuk membawa bekal dari Bandung saja.

Sampai di Bandung pukul 5:30 sore, Alhamdulillah aktifitas hari ini selesai tinggal menunggu hasil saja.

Saat ini sudah pukul 22:23 malam dan mata sudah lima watt jadi tulisan ini harus dihentikan segera untuk istirahat. Ah tulisannya sampah lagi..

Berlibur…

Saatnya untuk rehat sejenak dari aktifitas kerja yang sudah memasuki tahun ketiga selepas dari kuliah. Libur kali ini begitu istimewa karena telah ditemani oleh sang kekasih yang saat ini telah menjadi istri. Sehabis dari liburan, kami berdua akan melanjutkan perjalanan ke Bandung tempat istri saya bekerja. Banyak rencana yang telah ada dalam benak saya yang akan dikerjakan di Bandung. Ada janji untuk ketemu dengan ex IARD lab dan juga bertemu dengan seseorang yang rencananya ingin membeli produk dari tugas akhir yang dulu penulis kerjakan.

Semoga semua berjalan lancar nantinya, sekarang fokus ke liburan dulu di pulau dewata Bali. Tapi berhubung besok bertepatan dengan hari nyepi jadi harus kehilangan 1 hari untuk menghormati pemeluk agama Hindu yang mayoritas di pulau dewata ini. Perbekalan makan untuk besok telah saya siapkan hari ini karena seluruh toko yang ada akan tutup seharian penuh dan orang-orang yang ada di Bali tidak boleh berkeliaran keluar kecuali untuk melaksanakan shalat Jum’at. Kami sengaja menginap di hotel ini karena lokasinya bersebelahan dengan masjid sehingga tidak perlu berjalan jauh untuk melaksanakan shalat Jum’at.

Sumber gambar: http://www.luxurytravel.com/