Mengais Tulisan di Blog Sendiri untuk Buku

Saat ini saya sedang mengerjakan dua buah buku, yang satunya tentang Debian sedangkan buku yang lainnya tentang kepenulisan secara umum. Nah, semalam sempat kepikiran keliatannya tulisan-tulisan yang pernah diupload pada blog ini dapat berguna untuk beberapa bab pada buku tersebut.

Memang ada beberapa dari tulisan saya pada blog berhubungan dengan tulisan tersebut. Yah itulah salah-satu manfaat yang dapat diambil jika memiliki catatan harian seperti blog karena suatu saat dapat berguna untuk dirangkaikan satu dengan yang lainnya.

Tapi permasalahan yang timbul, apakah tulisan tersebut berbobot dan bukan menjadi bacaan sampah bagi orang lain?. Itulah yang terkadang saya pikirkan saat ini sehingga niat untuk mengadopsi tulisan-tulisan yang ada pada blog ditunda untuk sementara waktu sampai menghasilkan sebuah tulisan yang berbobot.

Sumber Gambar: http://www.jmbpub.com/

Tulisan Sampah

Ya, judul di atas penulis tuangkan pada tulisan kali ini. Alasannya karena tidak tahu harus menuliskan apa atau dengan kata lain penulis kehilangan ide. Akibatnya beberapa hari ini tidak dapat meng-update tulisan di blog penulis. Susah juga memang menemukan sebuah tulisan yang bagus dan bermanfaat bagi orang lain.

Tulisan sampah memang sama sekali tidak bermanfaat sehingga layak dibuang ke tempat sampah dan tidak dilirik apalagi untuk diambil kembali. Tulisan sampah seharusnya tidak layak dipublikasikan ke media internet karena hanya menghasilkan sampah, hee..

Bagaimana menghasilkan tulisan sampah?, jawabannya sangat sederhana karena sesuatu yang dianggap sampah sangat mudah untuk dihasilkan. Lihat saja dalam kehidupan sehari-hari, sampah sangat mudah untuk ditemukan di sekitar kita bukan?.

Budaya Tulis

Budaya tulis-menulis merupakan hal yang sangat positif dibanding dengan budaya lisan yang cenderung tidak bermakna. Budaya tulis tidak semudah yang dibayangkan. Seseorang yang tidak terbiasa dengan tulis-menulis akan terasa sangat berat untuk menggoreskan pena dan tentu saja dengan harapan sebuah tulisan yang bermutu.

Budaya lisan dimiliki oleh setiap orang dan telah berlangsung sejak kecil saat kita telah diberikan kemampuan untuk berkomunikasi lewat lisan kita. Tapi budaya tulis tidak semua orang dapat memilikinya dan jumlahnya pun tidak banyak. Untuk mengembangkan budaya tulis-menulis ini butuh perjuangan dan kerja keras.

Tulis-menulis pasti akan diiringi oleh kebiasaan baca karena hal ini adalah sebuah rumus matematika yang saling berbanding lurus. Dalam arti kata bahwa orang yang senang menulis pastilah termasuk orang yang senang membaca. Kecintaan pada buku akan terlihat oleh seseorang yang terbiasa dengan budaya tulis-menulis.

Jika cerminan di atas telah melekat pada diri kita, maka kita telah termasuk orang-orang dalam golongan masyarakat intelektual yang lebih mengedepankan budaya tulis daripada budaya lisan yang cenderung ngawur atau tidak tertata dalam bahasa yang terstruktural.

Pernahkah kita menyadari bahwa budaya surat-menyurat yang dulunya dilakukan lewat kartu pos terutama menjelang hari raya idul fitri merupakan hal yang sangat positif. Tapi karena kemajuan dunia teknologi informasi saat ini, budaya berkirim surat telah ditinggalkan dan kemudian dialihkan ke budaya berkirim surat melalui pesan singkat. Memang harus diakui bahwa Short Message Service (SMS) mengedepankan kepraktisan dan kecepatan pengiriman informasi. Namun harus diingat bahwa sangat jarang bahkan bisa dihitung jari orang yang mengirimkan pesan singkat menggunakan bahasa yang baku sesuai dengan EYD. Padahal penggunaan bahasa baku hanya dapat diterapkan jika dilatih setiap saat. Kehadiran media blog online sebenarnya dapat menjadi ajang latihan untuk terus menerus melatih penggunaan EYD dalam bertutur kata dalam bentuk bahasa tulisan.

Kemarin malam, program `Kick Andy` ditayangkan oleh Metro TV. Acara ini merupakan salah satu acara tv favorit bagi penulis karena banyak memberikan inspirasi.Dalam program tv tersebut, ditampilkan sosok Andrea Hirata. Novel `laskar pelangi` adalah salah-satu karyanya dan merupakan novel best seller. Ide ceritanya terinspirasi dari pengalamannya di masa kecil dulu. Ia banyak terinspirasi oleh sang guru Ibu Muslimah. Tapi yang perlu dicatat disini adalah budaya tulis-menulis yang dijalankan oleh seorang Andrea.

Selain sebagai karyawan (PT. Telkom), ia juga aktif menulis. Asyik bukan, walaupun profesinya tidak total ke dunia jurnalistik tapi beliau adalah salah satu contoh yang dapat dijadikan panutan dalam hal kepenulisannya. Tentu saja masih banyak penulis best seller lain yang terdapat di negeri tercinta ini.

Kelompok inilah yang dapat diklasifikan sebagai kelompok kecil (intelektual) yang mengedepankan budaya tulis daripada budaya lisan dan tidak semua orang dapat memilikinya. Sekali lagi butuh perjuangan dan kerja keras..

Terus, bagaimana mengembangkan budaya tulis agar dapat tertanam pada setiap individu?. Setiap orang punya cara untuk mengembangkan budaya tulis-menulis ini. Meminjam istilah Aa’ Agym yakni mulailah dari hal kecil, mulai saat ini dan mulai dari diri sendiri.

Kebiasaan menulis dapat dilatih dengan menulis setiap ada kesempatan termasuk menulis di media blog ini. Kemajuan teknologi saat ini memungkinkan setiap orang dapat mengakses internet dimana saja dan kapan saja. Sehingga jika terlintas sebuah ide yang layak ditulis dapat langsung mengakses internet untuk menulis di blog.

Sumber gambar: http://www.warren-wilson.edu/

Ketika Kehilangan Buku

Sebuah buku terkadang begitu berharga buat kita, apalagi jika buku tersebut dengan susah payah mendapatkannya. Beberapa buku text book Debian GNU/Linux yang pernah saya beli dengan jumlah halaman rata-rata 500-an. Seluruh buku tersebut telah hilang. Salah satu contoh buku yang penulis pernah miliki seperti gambar di samping.

Ceritanya begini, Saat kerja di PT. Siemens, seluruh buku di Bandung saya bawa ke tempat kost-an di Pancoran Jakarta. Pembelian buku tidak berhenti sesampai di Jakarta malah bertambah karena selain akses untuk pembelian buku, juga sudah ada rejeki berupa gaji sendiri. Jadinya tidak perlu meminta ke orang tua lagi.

Kemudian pindah kerja ke Ericsson di Wisma Pondok Indah akhir tahun 2006. Karena akses ke WPI cukup mudah dari pancoran, akhirnya saya memutuskan untuk tetap tinggal di kost-an yang lama serta karena alasan pemindahan buku yang banyak pasti akan sangat merepotkan.

Sebulan kerja di Ericsson, sang manager meminta untuk penempatan di Makassar karena alasan orang Makassar. Pemberitahuan ini begitu mendadak dan waktu yang diberikan satu hari saja. Sebagian barang saya drop kembali ke Bandung kecuali seluruh buku yang saya miliki karena akan dibawa ke Makassar.

Karena banyak barang tambahan yang harus saya bawa balik, akhirnya buku-buku tersebut untuk sementara saya simpan di depan kamar kost yang rencananya akan saya ambil kemudian saat balik ke Jakarta.

Sebulan kemudian balik ke Jakarta untuk training di kantor, dan dengan perasaan sangat menyesal buku-buku tersebut telah hilang entah kemana. Sungguh amat disayangkan karena kebanyakan adalah text book yang harganya lumayan…

Beberapa dari buku tersebut begitu berharga bagi saya dalam artian isi dan materi yang diangkat sangat bagus. Hu..Mau memesan buku yang sama untuk kedua kalinya terasa berat karena pengeluaran harus diperhitungkan lagi. Ya sudah, semoga lain kali ada kesempatan dan kelonggaran dana untuk membeli buku-buku tersebut.

Sumber Gambar – http://slog.thestranger.com/files/2008/03/scaled.books-5001.jpg

Termasuk Kecanduan Internet kah?

Malam ini sudah menunjukkan pukul 01.30 padahal besok harus masuk kantor seperti biasa. Gila, sudah hampir 24 jam di depan komputer. Aktiftas pun tidak berarti apa-apa karena hanya mengedit template website serta mencari artikel-artikel menarik.

Apakah hal ini merupakan indikasi dari sebuah kecanduan. Dulu, saat masih kuliah sering mengejek teman kalau kecanduan internet membuat pergaulan di dunia nyata kurang sehat. Dan kenyataannya demikian yang terjadi pada kawan sekaligus sahabat penulis. Ternyata penyakit itu sedang menghinggapi saya. Uhh..

Hari-hari libur pun diisi dengan aktitifitas di depan komputer. pulsa untuk internetan pun kian hari semakin membengkak padahal di kantor juga disiapkan koneksi internet yang cukup kencang.

Semoga hari esok bisa sedikit mengurangi ketergantungan internet dengan berusaha mengalihkan perhatian ke hal lain atau mencari alternatif lain sehingga bisa terhindar dari komputer untuk sementara waktu.

Memang harus saya akui bahwa komplain dari keluarga juga sudah sangat sering dilayangkan ke penulis tapi sedikit dihiraukan dengan berbagai alasan. Maaf..maaf seribu maaf ternyata saya sudah kecanduan internet.

Sumber Gambar: http://news.bbc.co.uk/olmedia/images/_37928_tp_addicted300.jpg

Menulis:Hal Menyenangkan VS Membosankan

Bagi sebagian orang menulis merupakan sesuatu yang sangat membosankan. Tapi bagi sebagian orang, menulis merupakan kegiatan yang sangat menyenangkan. Mengapa bisa menulis merupakan sesuatu hal yang sangat menyenangkan?.

Layaknya seperti hobi yang lain, aktifitas kepenulisan jauh lebih fleksibel untuk dikerjakan setiap saat dan bisa dilakukan dimana saja seperti saat menunggu keberangkatan pesawat, dalam perjalanan kereta api atau bahkan bersantai di kedai kopi. Apapun bentuk kepenulisan baik itu sastra, non fiksi ataupun hanya sekedar catatan kecil dari sesuatu yang kita rasakan.

Namun kebiasaan menulis tidak akan datang dengan sendirinya, melainkan harus dilatih setiap saat karena penyampaian lewat bahasa tulisan jauh lebih sulit daripada disampaikan lewat bahasa lisan. Sebuah informasi yang disampaikan lewat bahasa lisan cenderung tidak bisa dikontrol alias baru terpikirkan setelah kita mengucapkannya. Lain halnya dengan bahasa tulisan, sebuah bahasa tulisan pastinya akan dipikirkan terlebih dahulu kemudian dituliskan.

Sebuah informasi yang disampaikan lewat bahasa tulisan juga dapat dikoreksi setiap saat atau bahkan dapat disempurnakan dengan rujukan dan referensi dari tempat lain. Inilah kedahsyatan tulisan dibanding jika dibahasan dalam bentuk lisan.

Memang awalnya menulis merupakan sesuatu yang sangat membosankan, tapi jika terus dilatih dan dilatih lagi maka tulisan dapat mengalir begitu lancar, hingga terkadang kita sendiri merasa takjub karena jumlah halaman yang telah diberi dengan goresan tinta sudah banyak. `Sedikit demi sedikit akhirnya menjadi bukit`, sebuah ungkapan yang dapat diidentikkan dengan dunia tulis menulis, dengan sekali duduk mungkin dapat menghabiskan puluhan halaman.

Rasa jenuh tentu akan dirasakan oleh setiap penulis, meskipun ini adalah hobi alias sebuah kesenangan. apalagi jika kegiatan tulis-menulis bukanlah menjadi sebuah hobi atau kesenangan. pasti akan selalu merasa jenuh, sampai-sampai tidak dapat menuliskan sepatah-kata pun di sebuah lembaran kosong.

Terkadang media untuk menulis seperti blog ini membuat pemiliknya selalu merasa ditagih secara tidak langsung untuk menuliskan tema-tema baru di blog, entah sadar atau tidak. pastilah rasa itu akan selalu muncul `Hei kapan aku diupdate lagi` sudah terlalu lama tidak ditulisi lagi!!. Jika ini sudah muncul, kemungkinan menulis sudah merupakan kesenangan bagi saya, bagi Anda dan bagi kita semua.

Sumber gambar http://purple-socks.webmage.com/writer.jpg