Hasil Kerjaan yang Tidak Pernah Terdokumentasikan

Judul ini sengaja saya angkat karena begitu banyak dari sahabat/teman saya di bangku kuliah, teman-teman linuxer (pengguna linux) yang saya kenal lewat internet menyesalkan atau tepatnya mengeluh bahwa mereka tidak memiliki dokumentasi sama sekali terhadap hasil kerjaan mereka selama ini.

Hasil kerjaan yang penulis maksud adalah saat berhadapan dengan `pingiun` (baca: linux). Padahal dokumentasi sangat perlu untuk sebuah bidang research/penelitian ataupun kerjaan yang sifatnya iseng-iseng saja atau tidak serius. Hal ini begitu penting karena dokumentasi dalam bentuk tulisan dapat berguna suatu saat nanti. Keuntungan lain dari dokumentasi yang rapih terkadang dapat diangkat menjadi sebuah tulisan yang bisa menghasilkan profit bagi penulisnya. Selain itu, tanpa kita sadari sebuah kebiasaan untuk selalu mendokumentasikan segala sesuatunya pasti berdampak positif bagi pelatihan kepenulisan bagi setiap orang yang melakukannya.

Ada hal yang menarik dalam hal kepenulisan dokumentasi saat berhadapan dengan GNU/linux. Saat mencoba sebuah aplikasi/software, banyak cara yang telah dilakukan tapi semuanya tidak berjalan pada sistem dan entah dengan cara yang mana yang terkadang luput ternyata bisa berjalan dengan sempurna. Untuk urusan kepenulisan dokumentasi terhadapat kasus di atas, penulis berusaha untuk menuliskan langkah demi langkah dari setiap hal walaupun itu gagal, kemudian tulisan tersebut saya edit pada bagian yang gagal kemudian diganti dengan cara atau langkah yang berhasil. Akhirnya bisa menjadi sebuah dokumentasi yang tertata rapih dan enak untuk dibaca. Bagaimana dengan Anda?.

Terkadang ada sebuah penyesalan pada akhirnya terhadap segala sesuatu yang telah kita kerjakan dan berhasil berjalan dengan sempurna pada sistem, tetapi tidak terdokumentasikan sama sekali. Kenapa bisa begitu?. Mungkin hanya masing-masing individu yang bisa menjawab. Saya tidak perlu menjawabnya..

Penulis dan Komputer Tua

Koran “Fajar” terbitan Makassar tertanggal 9 desember 2007 memuat sebuah cerita pendek yang cukup bagus (menurut saya pribadi). Isinya cukup membuat saya prihatin akan sebuah kecintaan dengan kerjaan sebagai seorang penulis lepas. Cerpen tersebut ditulis oleh Dul Abdul Rahman.

Diceritakan bahwa seorang dengan pekerjaan penulis lepas memiliki tanggungan seorang istri dan seorang anak. Sumber rejeki mereka dari oplah yang ia dapatkan dari publikasi hasil karyanya. Karena hidupnya begitu pas2-an maka sang istri memutuskan untuk membantu sang suami dengan membuka toko di depan rumah. Lumayan ramai karena letak rumah mereka berseberangan dengan sebuah sekolah dasar.

Setiap malam ia habiskan waktunya untuk menulis dengan modal sebuah komputer tua. Sungguh ironis memang, seorang penulis terkadang diidentikkan dengan kehidupan yang serba terbatas padahal begitu banyak orang-orang yang sukses juga lewat tulisan-tulisannya.

Ataukah pekerjaan seorang penulis masih dipandang sebelah mata karena tidak populer dan penghasilan yang sangat minim..Kalau saya pribadi, ingin terus menulis dan menghasilkan karya dalam bentuk buku sebagai hobi dan tetap melanjutkan pekerjaan utama sebagai seorang karyawan.