Evolusi Jam Tangan Dari Tahun ke Tahun

Tahun 2006 saya menggunakan jam tangan merek casio (favorit) yang saya beli di Makassar dan masih terus dipakai hingga saat ini. Yang sering diganti hanya baterai dan tali jam saja. Berarti sudah 12 tahun menggunakan jam ini. Harganya kalau tidak salah waktu itu sekitar Rp. 275.000.

Berikutnya, jam merek Q&Q dibeli di Bandung sekitar tahun 2013 dengan harga Rp. 250.000 yang saya pakai kurang lebih 2 tahun hingga baterai jamnya mati.

Jam tangan ketiga adalah merek Swatch yang saya beli tahun 2014 di Pondok Indah Mall (PIM) dengan harga Rp. 1.300.000 dan bertahan sekitar 3 tahun sampai talinya rusak. Masalahnya adalah toko Swatch tidak menyediakan tali original sehingga tidak bisa mendapatkan jenis tali jam yang sama dengan aslinya walaupun jamnya sendiri masih bagus.

Jam berikutnya merek Mondaine yang saya beli di Singapura lewat online di https://www.chrono24.com dan barangnya dikirim dari Jerman di awal tahun 2018 ini dengan harga USD $270.

Jika saya perhatikan ternyata setiap pergantian jam dari tahun ke tahun, harga jamnya semakin mahal mengikuti kurva berikut kecuali jam tangan kedua merek Q&Q. Jika saya ukur-ukur saya masih termasuk yang mengikuti kurva warna biru. Dalam arti kata walaupun harga jam yang saya beli meningkat tapi masih dalam batas yang wajarlah.

Perangkat-perangkat elektronika di dalam bus Singapura dan kekonyolan-kekonyolan saya

Setiap bus di Singapura selalu dilengkapi dengan perangkat elektronika yang berada di samping bus captain (pengemudi) dan di bagian tengah. Satu set (depan+tengah) untuk pelanggan yang digunakan untuk menempelkan kartu perjalanan ketika naik sebagai penanda awal perjalanan dengan jumlah minimal saldo yang telah ditentukan dan satu lagi di bagian tengah ketika akan turun. Saat menempelkan kartu untuk keluar bus, biaya perjalanannya akan terlihat di monitor alat tersebut dan saldo di kartu perjalanan kita akan berkurang secara otomatis.

Dua alat lainnya untuk keperluan sang bus captain. Satu sebagai alat GPS yang berisi peta perjalanan dan satu lagi untuk mengetahui biaya perjalanan dari satu bus stop ke bus stop yang lainnya.

Saat pertama kali datang ke Singapura, terus terang saya tidak mencari informasi yang banyak di Internet atau bertanya ke teman-teman yang pernah atau sedang berada di sini. Pokoknya berangkat dulu, nanti sesampai di Singapura baru mencari tahu segala sesuatunya dan ini salah.

Akibat informasi yang sangat kurang, saya jadi harus banyak bertanya ke orang-orang padahal informasinya bisa saja didapatkan di Internet. Kekonyolan pertama adalah pertanyaan ke bus captain apakah satu kartu perjalanan ini bisa dipakai untuk dua orang (saya dan istri) karena waktu itu kartu saya tertinggal di kamar? Oh iya, untuk perjalanan dengan bus, kita masih bisa menggunakan uang tunai tapi harus pas, tidak boleh kurang dan boleh lebih. Jika uangnya lebih maka bus captain tidak akan mengembalikan sisanya tapi kalau kurang, bus captain akan meminta kekurangannya.

Sekedar catatan saja kalau biaya perjalanan dengan menggunakan uang tunai lebih mahal dibanding dengan menggunakan kartu. Saran saya untuk kondisi-kondisi kepepet saja menggunakan uang tunai untuk pembayaran.

Kekonyolan kedua adalah saat hendak turun di salah satu bus stop tujuan. Seharusnya saya menekan tombol ‘Stop’ biar bus captain berhenti di bus stop tersebut. Saya kena marah karena menempel kartu tetapi tidak menekan tombol ‘Stop’ sehingga tidak ada indikasi akan turun di bus stop ini. Akibatnya bus tidak berhenti di bus stop tujuan saya dan baru berhenti di bus stop berikutnya. Terpaksa harus jalan lebih jauh ke kantor Singtel.

Oh iya jika ingin mengetahui rute perjalanan setiap bus yang akan dilalui bisa dilihat di papan informasi yang ada di setiap bus stop.

Tapi fasilitas google map jauh lebih baik karena kita akan diberikan informasi bus-bus mana saja yang dapat digunakan dari tempat awal keberangkatan ke tempat tujuan lain yang diinginkan.

8 Marine Terrace Pagi Ini

Semoga keberkahan senantiasa Allah SWT turunkan ke bumi ini. Pagi ini cuaca di sekitar rumah begitu sejuk dengan turunnya hujan. Hembusan angin yang masuk ke dalam rumah begitu dingin sampai meresap ke dalam tulang-tulang saya membuat badan begitu bugar untuk memulai aktifitas pagi, Alhamdulillah.

Singapura Punya Jalur Baru Untuk MRT

Beberapa bulan lalu, Singapura sudah punya jalur MRT baru yang menghubungkan Tampines – Bukit Panjang melalui Expo. Dengan jalur baru ini, setidaknya terdapat alternatif untuk menuju Singtel exchange di Bukit Panjang jika saya sedang berada di kantor Ericsson.

Selama ini saya menggunakan East West Line (jalur hijau) dengan transit di Bugis kemudian menggunakan Downtown Line (jalur biru) untuk sampai ke Singtel Bukit Panjang dengan waktu tempuh satu jam.

Datang Kepagian ke Kantor

Waktu itu datang kepagian ke kantor, belum ada rekan-rekan kerja yang datang kecuali resepsionis. Mending selfie dulu dengan batik sebagai budaya lokal Indonesia walaupun di luar negeri.

Ericsson Singapore office, one @ Changi City – 2018

Pagelaran Seni di Sekolah Indonesia Singapura (SIS)

Untuk kegiatan seni, Naya begitu antusias untuk ikut menjadi bagian dari pagelaran tersebut. Photo ini diambil saat acara kenaikan kelas beberapa waktu lalu di hall Sekolah Indonesia Singapura (SIS).

Masih di acara yang sama Naya dan teman-temannya sedang bermain angklung yang merupakan kesenian dari Jawa Barat. Setiap anak memegang angklung dengan nada berbeda-beda yang akan menghasilkan alunan musik yang indah saat dimainkan dengan pola tertentu.

Gambar-gambar Karikatur Keren di Bandara Changi Singapura

Singapura yang terkenal dengan negara yang multi etnis ini selalu menampilkan keragaman etnisnya seperti Melayu, Cina, serta India. Baliho, iklan-iklan yang bersifat sosial akan selalu menampilkan ketiga etnis ini. Sama halnya di bandara Changi Singapura, jika Anda berada di underpass terminal 4 maka akan disuguhi gambar karikatur yang keren-keren. Gambar karikaturnya menampilkan masyarakat Singapura era tempo dulu.

Karikatur yang satu ini untuk India ditandai dengan jenis masakan yang sedang dibuat, ada roti prata, murtabak, dan briyani.

Termasuk gambar berikut. Sepertinya sepasang suami istri sedang berjualan ornamen-ornamen khas orang India.

Sedangkan yang ini adalah untuk masyarakat Melayu. Pakcik dan makcik yang sedang berjualan.

Ibu yang sedang menjemur sarong batiknya.

Kalau yang berikut untuk etnis Cina ditandai dengan ornamen-ornamen yang berwarna-warni dan ada kalender Cina.

Seorang ibu yang sedang berjualan kueh di toko.

Seorang bapak yang sedang berjualan di warung tenda miliknya.

Terakhir salah satu buah favorit orang-orang Singapura adalah durian (menurut salah seorang customer saya di operator telekomunikasi di sini)

Kalau karikatur ini saya kurang paham makna dibalik gambarnya yang coba menampilkan kue, cangkir kopi/teh.

Yang lagi ramai tentang pelican crossing di Jakarta

Semalam sempat melihat berita yang lagi hangat di Jakarta tentang pembongkaran JPO (jembatan penyeberangan orang) dan menggantikannya dengan pelican crossing oleh gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Timbul pro dan kontra.

Saya sendiri mendukung tindakan tersebut karena tujuan utamanya adalah untuk estetika kota dan tujuan jangka panjang yakni akan disiapkan underpass untuk penyeberangan. Bagi saya ini bukan sesuatu yang perlu diperdebatkan karena sesuatu yang lumrah dan tidak terlalu istimewa.

JPO sendiri sebenarnya bisa menjadi ditampilkan lebih menarik tanpa merusak pemandangan/estetika kota. Saya ambil contoh di Singapura untuk penyeberangan orang ada tiga yakni JPO, pelican crossing, dan underpass. Ketiga-tiganya tetap dipakai.

Photo berikut terlihat pelican crossing di Marine Parade Singapura yang di sisi kirinya sedang ada proyek MRT.

Sementara photo berikut adalah salah satu Underpass untuk penyeberangan orang di stasiun MRT Paya Lebar yang menghubungkan bus stop dan stasiun MRT serta Mall perbelanjaan sehingga saling terintegrasi satu dengan yang lainnya.

Photo berikut untuk JPO di daerah Upper east coast road.

Terkadang masyarakat kita terlalu banyak menghabiskan energi untuk berdebat tentang sesuatu yang tidak perlu. Masih banyak hal lain yang lebih bermanfaat untuk dipikirkan dan bukan untuk diperdebatkan.

Singapura, 3-Agustus-2018